Meski Air Mulai Surut 7.000 Rumah Terendam

Sumber:Pikiran Rakyat - 08 Desember 2010
Kategori:Banjir di Luar Jakarta

SOREANG, (PR).- Meskipun saat ini rendaman air telah surut, imbas banjir yang menerjang empat desa di Kec. Banjaran, Kab. Bandung dua hari lalu masih terasa. Sebanyak 39 rumah warga rusak dan sebagian di antaranya roboh. Para pemiliknya mengungsi ke tempat saudara atau tetangga terdekat. Sementara di Kec. Baleendah dan Dayeuhkolot, banjir masih merendam lebih dari tujuh ribu rumah. Bahkan, lebih dari 130 keluarga terpaksa mengungsi karena rumah mereka terendam lebih dari satu meter.

Ke-39 rumah rusak atau roboh terdapat di empat desa, yakni Kamasan (24), Banjaran Kota (1), Banjaran Wetan (5), dan Tarajusari (9). "Sebagian besar rumah tersebut semipermanen dan berada di bantaran sungai," kata Camat Banjaran Iman Irianto, Selasa (7/12).

Menurut Iman, banyaknya warga yang tinggal di bantaran sungai merupakan dilema tersendiri. Meskipun tindakan tersebut jelas-jelas bertentangan dengan aturan, aparat pemerintah tidak bisa berbuat banyak untuk menertibkannya. "Setiap kali kami minta warga untuk pindah, mereka menagih apa ada lahan yang disediakan buat mereka tinggal. Ini dilema tersendiri bagi kami," ucapnya.

Berbeda dengan banjir di Baleendah yang bersifat genangan, banjir yang menerjang Banjaran berupa aliran air yang relatif deras. Itulah sebabnya, meskipun sering kali laju air mampu merusak atau bahkan merobohkan rumah, rendaman air di wilayah tersebut cepat surut.

Iman mengungkapkan, di Banjaran saat ini baru Desa Kamasan saja yang telah memiliki tim Sibat (Siaga Bencana Berbasis Masyarakat) yang dirintis Palang Merah Indonesia. Sementara di desa-desa lain yang juga rawan bencana, titik-titik evakuasi pun belum disepakati bersama. Perahu karet untuk evakuasi mandiri juga belum ada di Banjaran. Menurut Iman, inisiatif semacam tersebut akan didorong pada waktu mendatang.

Perubahan nasib

Di Kec. Baleendah dan Dayeuhkolot, lebih dari 130 keluarga tertahan di pengungsian. Di Baleendah, ada lima lokasi pengungsian, yakni Aula Kelurahan Baleendah, gedung olah raga, aula kecamatan, Gedung Juang, Gedung Kwartir Cabang Pramuka, dan Sekretariat DPC PDIP. Jumlah pengungsi 134 keluarga tersebut meliputi warga di RW 20 Kampung Cienteung Kel. Baleendah, RW 28 Kel. Baleendah, dan warga Kel. Andir.

Ida (30), warga RT 1 RW 20 Kp. Cieunteung mengungkapkan, bersama suami dan dua anaknya, ia mengungsi sejak seminggu terakhir. "Jika air di rumah masih setinggi dada, kami belum mengungsi. Akan tetapi seminggu terakhir, air naik tinggi sekali. Waktu mau mengungsi dulu, saya sampai harus keluar rumah lewat genting," ucapnya.

Setiap pagi, Ida menengok rumahnya di Cieunteung. Jika rendaman air sudah agak surut, ia berniat pulang. "Siapa sih yang betah di pengungsian biar mendapat bantuan rutin? Semoga tahun depan tidak lagi seperti ini. Sebentar-sebentar mengungsi. Ada pergantian bupati, semoga ada perubahan nasib bagi kami," katanya.

Cakupan rendaman di Baleendah tak kunjung menciut dalam seminggu belakangan. Rendaman mulai surut pada pagi hingga siang hari, tetapi hujan deras pada siang dan sore hari menambah lagi ketinggian air. Di Baleendah, jumlah rumah yang terendam masih pada kisaran 6.913 unit, sedangkan di Dayeuhkolot ada sekitar 1.000 rumah terendam.

Bantuan

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kab. Bandung Juhana Atmawisastra mengungkapkan, saat ini prioritas BPBD adalah tanggap darurat terkait dengan bencana banjir di Baleendah, Dayeuhkolot, dan Banjaran. Dua hari terakhir, dua ton beras telah didistribusikan yakni satu ton ke Banjaran dan satu ton Baleendah. "Prioritas kami, jangan sampai jatuh korban jiwa dan kebutuhan para pengungsi tercukupi," katanya.

Menurut Juhana, BPBD Kab. Bandung juga telah memulai berkomunikasi dengan BPBD Jabar, PMI, dan dinas-dinas bersangkutan terkait dengan penanganan bencana. Selain pendistribusian beras, juga dimulai rehabilitasi terhadap jembatan ambrol di Desa Pintusari, Banjaran oleh Dinas Bina Marga. (A-165)



Post Date : 08 Desember 2010