Mereka Mempersembahkan Air untuk Sesama

Sumber:Media Indonesia - 20 Maret 2010
Kategori:Air Minum

TANAH, gunung, dan perbukitan, menjanjikan kesuburan. Namun, masalah air sering menjadi kendala. Di Desa Enoneontes, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, posisi aliran sungai berada di bawah daratan. Akibatnya, banyak lahan tidak mendapat cukup air dan hanya bergantung pada hujan.

Tingkat kesuburan tanah pun tak termanfaatkan. Setelah lama tak terolah, akhirnya dibiarkan menjadi lahan tandus.

Warga juga sulit mendapatkan air bersih. Mereka harus berjalan kaki beberapa kilometer untuk mengambil air dari sumbernya.

Berjarak ribuan kilometer dari NTT, warga Dusun Glempang, Desa Kotayasa, Kecamatan Sumbang, Banyumas, Jawa Tengah, juga mengalami kegelisahan yang sama. Ratusan penduduk harus menuruni lembah sejauh 300 meter untuk mendapat air bersih.

Dua sumber air, yakni di Sladan dan Sungai Lumarab, mengalir jauh di bawah permukiman. Menggotong jeriken dan ember pun menjadi ritual sehari-hari, dan sudah berjalan puluhan tahun.

Untungnya, di tengah kerontang dan dahaga akan air, di dua desa itu ada tangan kreatif yang tergerak berbuat. Mereka adalah Harry St Ange di Enoneontes dan Sudiyanto di Glempang.

Harry adalah seorang bapak berkewarganegaraan Inggris yang bermukim di Bali. Ia melangkah ke NTT saat melihat tayangan televisi yang menyiarkan kekeringan di Enoneontes.

Ketika datang ke desa ini, Harry langsung melirik aliran sungai yang tidak pernah kering yang berjarak 2 km dari lahan dan permukiman warga. Air yang mengalir deras tidak termanfaatkan karena terhalang jarak dan kemiringan lereng yang mencapai 60 derajat.

Saat itu, Februari 2006, ia berpikir keras. “Air harus dialirkan ke atas, ke permukiman dan ladang,“ ungkapnya.

Harry pun bergerak. Ia berhasrat membendung sungai dan membangun waduk kecil. Warga tidak percaya. Dengan bantuan seorang rekannya di Bali, ia membangun instalasi ram pump. Air dari sungai yang dibendung dialirkan ke penampungan yang lebih kecil. Teknologi memompa air dengan tenaga air itu akhirnya terwujud.

Harry memasang 10 pompa yang mampu mengalirkan air dari bak penampung ke atas gunung. Ia menghabiskan dana Rp500 juta.

Kini, warga tiga desa mudah mendapatkan air. Lahan mereka pun tak pernah kering. Setiap saat mereka bisa memanen tomat, cabai, dan buncis. Lahan di Enoneontes pun menjadi bukit hijau. Di Banyumas, Sudiyanto, juga membangun instalasi serupa pompa air tenaga air. Ia merakit sendiri pompa air yang disebutnya hydram--kependekan dari hydrolic ram.

Setelah melalui serangkaian uji coba, alat buatan Sudiyanto itu mampu menyemprotkan air hingga ratusan meter. “Air mampu menjangkau rumah yang berjarak 315 meter dari sumbernya,“ kata Yanto, panggilan pria ini.

Prinsip kerja rakitannya ialah memadukan sirkulasi udara dan air untuk membuat air terdorong ke tempat yang lebih tinggi.

Kini, air sudah masuk ke 900 rumah. Untuk memelihara pompa hydram, warga hanya ditarik iuran Rp2.500 per bulan. Mereka tak perlu lagi berjalan kaki ratusan meter demi air bersih. (LD/PO/N-3)



Post Date : 20 Maret 2010