Mbah Otto, Meniti Tebing demi Air Bersih

Sumber:Kompas - 28 April 2005
Kategori:Air Minum

"SAYA ingin air bersih buat anak cucu sebab air yang ada keruh dan membuat gatal-gatal. Akibatnya, anak cucu saya dan hampir seluruh warga kampung menderita kulit borok," kata Mbah Otto (90), warga Kampung Cikarees, Desa Padasuka, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

IMPIAN sejak 30 tahun lalu itu sudah terwujud. Sebuah bak kecil menampung air bersih dan belasan selang plastik mengalirkan air bersih ke rumah-rumah penduduk Cikarees. Air bahkan mengalir ke tetangga- tetangga kampung tersebut.

Kampungnya berada di kaki Gunung Cikarees, Garut. Sumber air bersih ada di puncak gunung. Saluran air harus melewati jurang, lembah, dan ujung-ujung tebing yang bertanah labil.

"Pasti bisa. Itu tekad saya," ujar Mbah Otto mengawali niatnya tiga puluh tahun lalu.

Ia mengelilingi Gunung Cikarees dan berhasil menemukan sebuah mata air dengan diameter sekitar 15 sentimeter, di atas dibanding air terjun di gunung itu. Lahan di mana mata air itu berada ia beli seharga Rp 40.000. Uang sebesar itu sangat mahal untuk ukuran zaman tiga puluh tahun lalu.

"Pengin punya air, harus beli mata air mahal-mahal," ujar Mbah Otto menirukan pesimisme dari para tetangganya.

BUKAN lantaran takut diejek kalau ia bekerja membuat saluran air diam-diam, tetapi lantaran takut dimarahi istrinya. "Mak Uki orangnya cepat khawatir. Kalau saya pulang telat, ia marah karena takut saya celaka di hutan," kata Mbah Otto.

Berbekal setangkup nasi, ikan asin, dan sayur lalap, lelaki beranak sembilan itu menebangi bambu berdiameter 10 sentimeter untuk dijadikan pipa air. Setiap hari ia menebang empat batang bambu. Setiap batang beratnya mencapai belasan kilo.

Ia menombak ruas bambu agar bolong sehingga jalan air tidak terhalang. Setelah itu, bambu disambung-sambungkan. Untuk itu ia harus bergelantungan di atas jurang, tebing yang bertanah lapuk, dan lembah. Saat akan menyambungkan bambu di dekat tebing air terjun, Mbah Otto mengikat rotan pada sebatang pohon. Dengan ujung rotan yang lain, ia mengikat tubuhnya. Ia juga mengikat bambu dengan rotan untuk digerakkan naik turun sebelum disambungkan dengan bambu yang sudah ada.

Tidak satu pun orang yang membantu. Tetangga yang lewat hanya menyapa, "Bikin saluran air, Mbah?" sambil mencicipi air bersih itu.

Mbah Otto bekerja setiap hari selama 2,5 bulan. Ia amat senang jika hujan turun karena tubuh tidak banyak berkeringat. Ia tidak pernah khawatir tergelincir ke jurang.

Setelah air bersih yang disalurkan oleh bambu sepanjang tiga kilometer itu sudah berada di kampungnya, ia membuat bak penampungan dari semen. Saat itulah Mak Uki mengetahui mengapa suaminya selalu pulang terlambat ke rumah.

Kedatangan air bersih disambut meriah oleh warga kampung yang dulu sempat mengejeknya. Dengan besar hati, Mbah Otto mengizinkan mereka mengalirkan air bersih ke rumah-rumah mereka dengan selang plastik.

Beberapa tahun kemudian, ketika bambu-bambu itu rapuh, barulah penduduk mau bekerja sama memperbaiki saluran dan menggantinya dengan pipa besi.

Kini ada "pihak lain" yang mengambil keuntungan dari air bersih itu. Setiap warga dimintai uang iuran senilai Rp 2.000 per bulan. Melihat itu, Mbah Otto tidak bisa berbuat apa-apa.

SEMENTARA ratusan orang menikmati air bersih, pekerjaan Mbah Otto belum juga selesai. Ia berusaha membuat debit air tidak berkurang. Salah satu caranya, menanami hutannya dengan pohon-pohon berbatang keras dan produktif. Pepohonan itu akan membantu alam menyimpan persediaan air tanah bagi warga di kampungnya.

Mak Uki sangat mendukung keinginannya. Setiap kali panen, Mak Uki membelikan Mbah Otto sebidang tanah untuk ditanami pohon, sampai terkumpul lima hektar tanah, yang kini ditanami bambu, mahoni, avokad, petai, cengkeh, dan lainnya.

Keinginan menghijaukan hutan bertambah besar ketika beberapa areal di Gunung Cikarees dan Gunung Kancil, yang berada di samping Gunung Cikarees, tampak gundul. Longsor juga beberapa kali terjadi.

"Saya datangi orang-orang kampung dan mengajak mereka agar mau menanam pohon di hutan. Tapi mereka menolak," kata Mbah Otto. Padahal, Mbah Otto juga berusaha menerangkan keuntungan materi yang bisa diraih masyarakat jika gunung dihutankan kembali.

"Kalau menanam padi, kita harus kerja setiap hari dan hasilnya hanya sedikit. Tapi, kalau menanam pohon, kita hanya perlu merawat pohon setahun atau dua tahun, setelah itu pohon akan menghasilkan uang terus tanpa perlu perawatan berat. Kita hanya perlu menyiangi semak belukar," kata Mbah Otto. Rupanya penjelasan Mbah Otto tidak dihiraukan.

"Ini kopi, avokad, petai, dan pohonnya sengaja Mbah tanam buat jadi contoh warga lain," kata Mbah Otto, yang tidak habis-habis didatangi bandar buah, bambu, dan kayu.

PADA Minggu (24/4) siang, saat ditemui di hutan, Mbah Otto tengah menunggui wisata air terjun yang dikelola di tanah miliknya. Dengan tarif Rp 500 per orang, sehari bisa terkumpul Rp 10.000 hingga Rp 20.000. Sementara upah pegawai pembersih Rp 15.000 per hari.

Di pintu gerbang wisata air terjun, lelaki pensiunan tentara dengan gaji Rp 500.000 per bulan itu menggunakan baju seragam Penerjun Polisi Republik Indonesia yang warna hijaunya sudah pupus dan dekil. Celananya berwarna coklat, juga sudah dekil. Bahkan, celana itu sudah tidak memiliki retsleting. Ia menautkan ujung celananya dengan sebuah ikat pinggang dari tali rafia. Sepatu bot plastiknya sudah bolong di beberapa bagian.

Mbah Otto yang sudah tidak bergigi itu selalu mencangklong sebuah tas tua. Isinya, bekal makanan, dua botol air putih, segepok tembakau, dan beberapa kertas rokok untuk melinting tembakau.

Setiap hari ia berjalan dari rumahnya ke hutan. Ia memiliki sebuah "kantor" di hutan. "Kantor" itu hanya sebuah bangunan panggung berdinding bilik bambu yang sempit. Di sanalah Mbah Otto melepas lelah sebelum kembali ke rumahnya.

Dua tahun lalu Mak Uki meninggal dunia. Delapan bulan lalu Mbah Otto menikah lagi dengan perempuan satu kampungnya. (Y09)



Post Date : 28 April 2005