Krisis Air di Negeri Kaya Air

Sumber:Suara Pembaruan - 23 Mei 2005
Kategori:Air Minum
Disadari atau tidak, krisis air di Indonesia kian mengkhawatirkan. Sebuah ironi, negara yang dikaruniai berlimpah-ruahnya air justru malah memiliki kualitas air yang kian terpuruk. Jumlah air bersih semakin jauh dari jangkauan masyarakat dan penyakit pun semakin mengintai kesehatan manusia.

RANI (36) kaget setelah membuka keran air di dapur rumahnya. "Tak biasanya air di sini keruh dan tampak putih berbusa. Malah kadang-kadang keluar cacing dari keran tersebut," ujarnya. Hal serupa juga dialami warga lainnya yang tinggal di kawasan Perumnas Bantarjati, Bogor.

Selain kualitasnya menurun, air yang dikelola Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) itu juga sering macet. "Agar aman, kami terpaksa memasang tangki air untuk persediaan kalau-kalau airnya tidak mengalir lagi," ujarnya.

Padahal, selama ini Bogor terkenal sebagai penyuplai air dengan kualitas sangat tinggi. Malah, pernah memegang rekor terbaik jika dibandingkan dengan mutu air dari seluruh Indonesia.

Itu adalah prestasi dulu. Sekarang, kondisinya lain lagi. Bisa dibayangkan, kalau di bagian hulu saja kualitas airnya menurun, apalagi di bagian hilirnya seperti kawasan Depok dan Jakarta.

Tanpa banyak diceritakan, fakta di depan mata sudah bicara. Coba lihat kehidupan masyarakat dan industri di pinggir-pinggir kali. Sungai menjadi tempat pembuangan abadi.

Beragam industri yang jumlahnya kian bertambah banyak dengan seenaknya membuang limbah tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu. Limbah cair digelontorkan begitu saja melalui pipa-pipa pembuangan ke sungai-sungai terdekatnya.

Tong Sampah

Bukan hanya itu saja. Masyarakat yang tinggal di bantaran kali pun sama saja. Mereka membuang bukan saja limbah cair dari kegiatan rumah tangga namun juga sampah-sampah padat dilempar begitu saja ke sungai.

Jadilah sungai sebagai tong sampah raksasa. Padahal, sebagian besar warga Jakarta mengandalkan air dari aliran sungai-sungai tersebut. Sudah pasti beratnya pencemaran itu memaksa alat penjernih air pun harus ekstra kerja keras.

Kadar kaporit dan kimia lainnya pun harus ditambah untuk menjadikan air agar terlihat lebih jernih. Namun di sisi lain, efek samping dari berlimpahnya penggunaan kaporit dan senyawa kimia lainnya membuat air yang dialirkan ke rumah-rumah itu tampak putih berbusa.

Bagaimana pun juga, mereka lebih beruntung ketimbang warga yang memanfaatkan langsung air untuk mandi, cuci, dan kakus sekaligus. Di sepanjang sungai-sungai di Jakarta misalnya, sungai sudah menjadi tempat tinggal sekaligus membuang sampah dan kotoran manusia.

Tak mengherankan kalau berdasarkan survei yang dilakukan, kualitas air di Jakarta sudah sangat mencemaskan. Selain kotor dan bau, air ini juga sering tercemar oleh bakteri E Coli yang bisa menyebabkan diare, penyakit serius lainnya, bahkan hingga kematian tragis.

Di kawasan pesisir atau utara Jakarta malah lebih parah lagi. Selain air tanahnya payau, mutu airnya pun tak layak dikonsumsi manusia karena tercemar aneka limbah dari hulu.

Krisis air ini harus segera diatasi. Sebab, kalau tidak bisa menjadi bencana besar di kemudian hari. Lalu bagaimana cara mengatasi masalah tersebut?

Dalam kondisi semacam ini, teknologi pembersih air bisa menjadi salah satu kebutuhan mendesak. Sebenarnya, beragam teknologi sudah pernah diterapkan di berbagai kawasan. Namun, jumlahnya masih terbatas pada lokasi-lokasi tertentu saja. Salah satunya adalah melalui penerapan teknologi reverse osmosis.

Menurut Dr Ir Arie Herlambang, peneliti di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, teknologi tersebut sudah banyak diterapkan di berbagai tempat, seperti di Kepulauan Seribu (Pulau Tidung, Pramuka, Kelapa, Harapan, Panjang, dan Untung Jawa), Sungai Lumpur dan Air Sugihan (Kalimantan Selatan), Tembilahan (Riau), Sei Rasau (Kalsel), Raha Pulau Muna (Sultra), Muncung (Tangerang), Muara Gembong (Bekasi), Pulau Saroppo Cakdi (Sulsel), dan lain-lain.

Menurut Arie, semakin besar skala unit pengolah airnya, kian murah biaya operasionalnya. Untuk pengolah air laut berskala kecil misalnya, dibutuhkan biaya Rp 15 sampai Rp 25 per liter, skala besar hanya Rp 4 hingga Rp 6 per liter, dan skala komersial (investor) Rp 9 hingga Rp 10 per liter. "Biaya tersebut jauh lebih murah kalau air yang diolah adalah air sungai," ungkapnya.

Arie yang terlibat langsung dalam pembuatan sistem penjernih air tersebut mengatakan, keberhasilan dalam pengelolaan terletak pada pengelola yang baik dan kooperatif.

Sayangnya, unit-unit pengolah itu banyak yang gagal. "Penyebabnya, bukan soal teknologinya, namun lebih ke masalah sosial, seperti kehilangan pompa, diesel pembangkit listrik, atau tidak mampu memasarkan produk airnya dan mengelola dana yang terkumpul," ungkap Arie.

Lalu, ada juga teknologi biofiltrasi untuk mengurangi pencemaran limbah domestik organik pada perairan. Air baku yang banyak mengandung bahan organik akan menyerap pemakaian kaporit yang lebih tinggi untuk proses pemurnian air, sementara bersamaan dengan itu kadar trihalomethan dalam air olahan juga meningkat.

Oleh karena itu, pemakaian teknologi biofiltrasi sebaiknya difungsikan sebagai unit pretreatment, terutama pada kota-kota besar yang sumber air bakunya mengandung bahan organik yang cukup tinggi. Proses biofiltrasi ini sangat diperlukan karena proses filtrasi pada teknologi konvensional hanya mengurangi padatan yang tersuspensi dan tidak mampu mengurangi padatan yang terlarut.

Siap Minum

Teknologi berikutnya adalah ultrafiltrasi. Teknologi tambahan dalam pengolahan air bersih ini terutama ditujukan untuk pengolahan air siap minum. Ukuran partikel yang mampu disaring sampai dengan 0,02 mikron.

Dengan demikian, diharapkan bakteri dan polutan mikro dapat tersaring. Teknologi ini hanya dapat dipakai untuk air tawar dan tidak bisa untuk air asin. Saat ini teknologi ultrafiltrasi mulai banyak dipakai di kota-kota besar dunia.

Berdasarkan pengalaman Arie, pengolahan air bersih haruslah mudah dan murah. Mudah berarti tidak memerlukan waktu lama dan tenaga besar untuk mengolah air dalam jumlah yang dibutuhkan. Murah adalah tidak membutuhkan biaya besar untuk mengolah air baku menjadi air bersih.

Untuk itu, unit-unit yang sudah ada dan pernah diaplikasikan, perlu dilakukan modifikasi dan evaluasi agar menjadi lebih mudah operasionalnya. Begitu pula bagi kawasan-kawasan lainnya yang memiliki mutu air baku rendah perlu menerapkan teknologi tersebut.

Arie menyarankan, dalam perberdayaan masyarakat perlu melibatkan lembaga swadaya masyarakat setempat agar pembinaan dapat lebih intensif dan terus-menerus sehingga suatu saat masyarakat dapat mandiri dalam pengadaan air bersih. Bukan apa-apa, selama ini setelah unit pengolah air dibangun masyarakat mengalami kesulitan baik untuk merawat sistem tersebut maupun menjual air hasil penyaringan.

Permasalahan yang sering muncul di lapangan adalah masalah biaya operasional unit-unit pengolah air bersih. Oleh karena itu, pembangunan unit pengolah air harus disertai pembinaan managemennya, "saran Arie.

Pembaruan/Budiman

Post Date : 23 Mei 2005