Konstruksi Dam Buruk, Banjir Datang

Sumber:Kompas - 23 September 2010
Kategori:Banjir di Luar Jakarta

Musim saat ini memang tak menentu. Dalam hitungan menit, cuaca cerah bisa langsung berubah muram, awan gelap dan hujan deras. Itulah alam, tak bisa dikendalikan oleh manusia.

Banjir bandang yang melanda setidaknya 16 desa di lima kecamatan di Kabupaten Cilacap pada Senin (20/9) dini hari lalu, menunjukkan buruknya kesiapan pemerintah daerah maupun pusat melindungi warganya dari bencana banjir. Salah satunya, mengawasi dan memperbaiki infrastruktur pengendalian banjir di badan sungai maupun irigasi.

Desa Kalijeruk, Kecamatan Kawunganten, merupakan salah satu desa yang tertimpa bencana banjir cukup parah. Hingga Rabu (22/9), desa masih terendam banjir sampai satu meter karena besarnya arus banjir dan sulitnya air surut.

Selama tiga hari itu, sebagian besar anak-anak tak dapat bersekolah. Para orang tua tak dapat bekerja dan bertani. Perabotan rumah tangga dan peralatan kerja rusak. Empat rumah warga roboh. Lebih dari 1.000 hektar sawah terendam banjir dan lumpur sehingga terancam puso.

Padahal menurut sejumlah warga, bencana banjir begitu besar seperti yang melanda desanya saat ini tak pernah terjadi sebelumnya. Menurut mereka, banjir besar itu disebabkan jebolnya talud Waduk Kali Gombong di dekat desa mereka dan jebolnya beberapa talud sungai maupun irigasi di desa itu.

Kepala Desa Kalijeruk Rasidin mengatakan, kalau saja talud pada Waduk Kali Gombong tak jebol, banjir yang melanda desanya tak separah sekarang. "Saya tidak tahu apa penyebab talud jebol. Mungkin konstruksinya tak sesuai karena waduk baru berusia empat tahun," jelasnya.

Menurut Rasidin, pembangunan Waduk Kali Gombong itu didanai APBN melalui Balai Besar Citanduy di Kota Banjar, Jawa Barat. Nilai proyek pembangunan mencapai Rp 1,5 miliar. "Kami sedang meminta perbaikan talud waduk ke Balai Besar Citanduy. Kalau tak diperbaiki, desa kami bisa kebanjiran hebat lagi," katanya.

Selain itu, Rasidin mengatakan, masih ada dua titik talud Sungai Cibogo dan talud Apur yang semuanya anak Sungai Ciberem yang jebol. Kondisi itu memperparah banjir di Desa Kalijeruk. Buruknya kondisi alam pada sejumlah hulu anak Sungai Cimeneng juga diduga penyebab banjir bandang yang melanda empat desa di Jeruklegi. Lebih dari 25 tahun desa-desa di kecamatan itu tak pernah dilanda banjir besar seperti yang terjadi pada Senin.

Desa Jeruklegi Wetan merupakan kawasan yang terendam banjir cukup parah sehingga empat rumah di desa itu pun roboh. Sekretaris Desa Jeruklegi Wetan Kalimyanto mengatakan, air lebih banyak datang dari arah hulu sungai dan air itu tak bisa mengalir dengan cepat karena muara Sungai Cimeneng di Laguna Segara Anakan mengalami pendangkalan.

Camat Kampung Laut Sukar yang membawahi wilayah Laguna Segara Anakan pun tak menampik pendangkalan di perairan laguna membuat air tiga sungai yang bermuara di laguna itu tak mengalir lancar, yakni Sungai Citanduy, Cimeneng, dan Ciberem. Dua desa di wilayahnya, yakni Desa Panikel dan Ujung Gagak, pun ikut terendam banjir karena berada di sekitar muara Sungai Cimeneng.

"Masalah banjir ini akan sulit diselesaikan kalau penanganannya hanya mengandalkan pemerintah daerah. Permasalahan utamanya tetap berada pada pendangkalan di Laguna Segara Anakan dan juga penghijauan di kawasan hulu sungai. Ini perlu kerja sama yang komprehensif," jelasnya. (Madina Nusrat)



Post Date : 23 September 2010