Jakarta Didera Krisis Air Bersih

Sumber:Kompas - 25 Juni 2010
Kategori:Air Minum

Dengan sebuah gelas kecil, Saman (46) menyirami tanaman kemanginya dengan hati-hati. Tanaman kemangi itu merupakan sumber penghasilannya, tetapi air sangat sulit didapat sehingga dia harus menghemat dan menyiram dengan tepat.

Tanaman kemangi ini tidak doyan air dari sumur saya. Daunnya cepat memerah dan menjadi kuning kalau disiram dengan air sumur karena payau dan tercemar,” kata Saman, warga RW 3, Kampung Belakang, Kamal, Cengkareng, Jakarta Barat.

Bagi Saman dan warga di kampungnya, air bersih menjadi barang yang sangat berharga. Ketika air sumur sudah tercemar, jaringan pipa air bersih tidak kunjung masuk ke kawasan itu. Untuk mendapatkan air bersih guna memasak, mencuci, dan minum, Saman harus membeli air dari kios Palyja Rp 1.000 per kaleng besar. Namun, jumlahnya tidak mencukupi sehingga harus membeli air dorongan Rp 2.500 per kaleng besar.

Dalam sebulan, Saman harus mengeluarkan uang lebih dari Rp 70.000 untuk membeli air. Jumlah itu mahal bagi Saman dan warga RW 3 yang mayoritas adalah petani kecil sayur-mayur dengan penghasilan di bawah Rp 500.000 per bulan.

Kondisi yang hampir sama dialami jutaan warga Jakarta. Permukiman mereka yang terletak di sudut-sudut pinggiran Jakarta tidak terlayani jaringan pipa air bersih. Ada juga kawasan yang terjangkau jaringan pipa, tetapi volumenya kecil dan kualitasnya buruk.

Dalam data PAM Jaya, jaringan pipa air bersih baru menjangkau 62 persen dari 9,6 juta penduduk Jakarta atau 3,65 juta penduduk belum terlayani air bersih dari kedua operator PAM Jaya, PT Aetra Air Jakarta (Aetra) dan PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja). Badan Regulator Pelayanan Air Minum DKI Jakarta menyebut angka yang ekstrem, yaitu 56 persen penduduk atau 5,376 juta jiwa, belum terlayani air bersih dari pipa PAM Jaya.

Rakyat kecil yang tidak mendapat air dari jaringan pipa PAM memenuhi kebutuhan mereka dengan menyedot air dari sumur dangkal. Padahal, sekitar 70 persen sumur dangkal di Jakarta sudah tercemar bakteri E coli karena terlalu dekat dengan septic tank.

Dunia usaha yang kekurangan pasokan air menyedot air dari sumur dalam secara berlebihkan. Dampaknya, permukaan tanah turun karena lapisan air kosong.

Krisis air

Pendiri Indonesia Water Institute, Firdaus Ali, mengatakan, jaringan pipa yang tidak menjangkau semua penduduk Jakarta merupakan dampak dari krisis air yang sedang dialami Jakarta. Untuk melayani 80 persen penduduk dan tambahan kaum komuter 2,6 juta jiwa, Jakarta membutuhkan air bersih 35.800 liter per detik. Air itu didapat dari memproses air baku 37.600 liter per detik.

Padahal, kapasitas produksi air bersih PAM Jaya, termasuk kiriman air bersih dari Tangerang, hanya mencapai maksimal 17.700 liter per detik. Jumlah ini pun masih dikurangi tingkat kehilangan air rata-rata sekitar 45 persen.

”Kekurangan air ini menyebabkan kedua operator PAM Jaya terhambat dalam memperluas jaringan pipa, terutama di wilayah utara, ujung barat, dan ujung timur Jakarta. Pipa dapat dipasang, tetapi percuma jika tidak ada air yang disalurkan,” kata Firdaus.

Kepala Komunikasi PT Palyja Meyritha Maryanie mengakui adanya kekurangan air baku untuk menyuplai air bersih bagi semua penduduk yang tinggal di sisi barat Sungai Ciliwung. Kekurangan air baku lebih terasa di Jakarta Barat dan Jakarta Utara bagian barat.

Sebagian besar wilayah Jakarta Barat dilayani dengan kiriman air bersih dari Tangerang sebanyak 2.700 liter per detik. Kebutuhan untuk kawasan itu sebenarnya tinggi, tetapi tidak dapat dipenuhi karena air dari instalasi pengolahan air Pejompongan tidak dapat dialirkan ke kawasan itu.

Direktur Utama PT Aetra Syahril Japarin mengatakan, kekurangan air baku sering membuat pelayanan tidak optimal. Perluasan jaringan untuk melayani lebih banyak orang juga terhambat minimnya jumlah air.

Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta Selamat Nurdin mengatakan, krisis air bersih yang sudah terjadi selama beberapa tahun ini harus segera diatasi.

Krisis air jangka panjang ini tidak menjadi pembicaraan ramai seperti krisis air singkat bulan lalu. Namun, jika terus dibiarkan, krisis air ini justru akan merusak kehidupan sosial dan ekonomi Jakarta dalam beberapa tahun lagi. (Agnes Rita Sulistyawaty/Windoro Adi/Clara Wresti)



Post Date : 25 Juni 2010