Irigasi Jebol Tewaskan Azzahra, Luapan Banjir Cileuncang juga Hancurkan Tiga Rumah

Sumber:Pikiran Rakyat - 03 Maret 2005
Kategori:Banjir di Luar Jakarta
BANDUNG, (PR).- Banjir cileuncang akibat parit irigasi jebol, terjadi di Kampung Jatihandap RT 4 RW 9, Kel. Mandalajati Kec. Cicadas Kota Bandung, Rabu (2/3). Akibatnya, seorang bayi bernama Siti Azzahra (19 bulan) meninggal, tiga buah rumah rusak berat, dan tiga buah sepeda motor rusak.

Sejumlah saksi mata menuturkan, banjir cileuncang terjadi sekira pukul 14.30 WIB, yang kemudian menghantam sejumlah rumah yang berada di dekatnya. Peristiwa itu terjadi saat hujan deras yang disertai angin kencang, yang juga mengakibatkan beberapa atap rumah warga nyaris terbang tertiup angin.

Air yang terus meluap, kemudian tidak tertampung lagi oleh parit yang lebarnya hanya sekira selebar 0,5 meter. Karena tidak kuat menahan debit, air kemudian tumpah dan menjebol dinding tembok parit.

Luapan air kemudian membanjiri rumah milik Ny. Ooh, Ny. Idoh, dan Oceng yang dihuni keluarga Ananto (35). Rumah-rumah itu letaknya berada lebih rendah dari parit. Luapan air yang cukup deras itu juga menerjang rumah Oseng hingga mencapai ketinggian 120 cm. Akibatnya, dinding rumah itu ambrol.

Air cileuncang masuk ke rumah Oceng. Saat itu Ny. Sri Azizah, istri Ananto dan dua anaknya Zahira dan Kinanti (7 tahun) sedang berada di dalam. Kejadian berlangsung secara cepat sehingga penghuni rumah tidak sempat menyelamatkan diri.

Sri dan dua anaknya terseret arus kemudian terhempas sampai ke rumah Ny. Oon, yang berada di bawahnya. Sri dan Kinanti selamat. Namun, Azzahra tidak bisa selamatkan. Bayi malang itu tewas karena terimpit bongkahan dinding rumah.

Ketia arus air menyeret Sri, bayi malang itu terlepas saat digendong ibunya. Azzahra diduga terbentur tembok pada bagian kepalanya saat terlepas dari gendongan. Sedangkan Ny. Sri Azizah dan Kinanti hanya menderita luka-luka ringan. Ia terlihat shock berat karena bayinya meninggal. Ny. Sri lebih banyak menangis tersedu-sedu, meratapi kehilangan bayinya itu.

Saat masuk ke tiga rumah, banjir cileuncang itu juga menghantam tiga buah sepeda motor milik warga yang tengah diparkir. Suzuki Satria bernomor polisi D 6305 BT dan Honda Mega Pro D 4784 CO milik Agus Suwandi, serta Honda Supra D 3567 CT milik Ananto, hancur.

Pemilik ketiga sepeda motor tersebut terlihat kebingungan melihat kondisi barangnya yang sudah rusak. Mereka hanya melihat-lihat sejauh mana kerusakan yang dialami.

Soal kerugian material, sejauh ini pemilik rumah dan pemilik sepeda motor tidak memberikan keterangan. Diperkirakan, untuk rumah saja, nilainya mencapai puluhan juta rupiah, belum termasuk sepeda motor.

Mengejutkan

Saat kejadian, aliran air sangat deras dengan suara bergemuruh, sehingga banyak warga yang kurang siap menghadapi banjir yang memang datang secara tiba-tiba itu.

Saksi mata, Agus S., menyebutkan, saat air banjir dari parit sudah membesar, ia mendengar teriakan minta tolong dari Sri Azizah.

Saat ke luar untuk melihatnya, air sudah meluap di rumah Sri Azzahra sampai setinggi dada.

Sebelum saya dapat menolong, dinding rumah tetangga yang lainnya sudah jebol duluan, bunyinya seperti ledakan. Karena terhenyak dengan kejadian itu, warga pun baru dapat melakukan pertolongan kepada Sri Azizah setelah air surut, katanya.

Kejadian banjir cileuncang di tempat itu, menurut beberapa warga, baru terjadi kali ini. Karena itu, kejadian ini dirasakan warga sebagai sesuatu yang mengejutkan.

Banyak diantara kami yang tak menduga akan terjadinya banjir seperti ini. Biasanya, kalau hujan lebat dan banjir, air cepat mengalir. Kalaupun terjadi banjir, biasanya tak terlalu besar, kata seorang warga. Beberapa warga juga mengatakan, jebolnya diding parit disebabkan usianya yang sudah tua, sehingga tak kuat lagi menahan kuatnya arus air. Namun, selama ini, banyak warga yang tidak menyadari kondisi dinding parit sudah mengkhawatirkan.

Dalam kondisi hujan lebat seperti terjadi beberapa hari terakhir, banyak warga yang menganggap biasa parit dipenuhi air, karena biasanya air cepat reda kembali, sehingga warga menganggap sesuatu yang biasa-biasa saja.

Usai kejadian, petugas polisi, kecamatan, kelurahan, dan masyarakat setempat segera melakukan penutupan terhadap saluran irigasi yang jebol. Air selanjutnya dialirkan ke sungai yang ada di sekitarnya.

Dengan demikian kepanikan warga yang ada di dekat saluran irigasi tersebut berkurang. Meskipun demikian, mereka tetap mewaspadai terjadinya lagi bagian saluran irigasi yang jebol.

Beberapa warga terdengar mengeluh. Mereka mempernyatakan kondisi parit belum juga diperbaiki, hingga kemudian jebol. Padahal sebelumnya, pemerintah daerah diharapkan segera memperbaikinya. Tak hanya itu, respons dari warga lain ternyata kurang baik. Terbukti, nyaris tidak ada upaya perbaikan dan pemeliharaan parit yang kini telah menelan korban jiwa itu. (A-112/A-146/A-81)

Post Date : 03 Maret 2005