Ekohidrologi

Sumber:Kompas - 10 Desember 2005
Kategori:Air Minum
Sebelum berbagai masalah lingkungan muncul semakin sering, seperti kekeringan, banjir, longsor, atau makin sulitnya mendapatkan air tanah, konsep hidrologi atau ilmu pengaturan air hanyalah berdasarkan fungsinya.

Kalau perlu air banyak, ya dibuatlah bendungan. Kalau air harus segera mengalir ke laut agar tidak merendam kawasan yang dilewatinya, dibuatlah saluran-saluran lurus langsung menuju ke laut.

Tidak disadari, bendungan mengubah ekosistem dengan banyaknya keanekaan hayati yang hancur. Belum lagi ribuan manusia yang terdislokasi karena kawasan tempat tinggalnya terendam air.

Saluran air buatan yang langsung ke laut biasanya tidak banyak ditumbuhi vegetasi karena dibuat dari dinding batu atau beton. Padahal vegetasi membantu meretensi air agar terserap kembali ke dalam tanah.

Dengan banyaknya saluran buatan, cadangan air tanah hanya sedikit bertambah dan berdampak kekeringan pada musim kemarau.

Selain itu, bekas sungai atau sungai yang terpotong sodetan akan memicu masalah baru, yaitu menjadi tempat pembuangan sampah atau sarang nyamuk.

Konsep pengelolaan air yang lebih bersifat memenuhi kebutuhan praktis ini mendominasi Indonesia hingga akhir 1990-an dan dampak buruknya terus terasa sampai sekarang.

Menurut konsep ekohidrologi dalam website United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), pemecahan masalah tanpa mengupayakan tambahan keuntungan lain memang tidak bisa dibilang sukses. Karena itu, pengelolaan air sekarang tidak lagi bersifat pragmatis, tetapi lebih berorientasi pada pengelolaan sumber daya air berkelanjutan, disebut konsep ekohidrologi.

Ekohidrologi menyeimbangkan pemanfaatan dan konservasi air. Air permukaan dan air tanah dikelola secara terintegrasi, lintas sektor dan lintas disiplin. Pengelolaan ini bersifat jangka panjang dan berdasarkan perencanaan spasial atau tata ruang.

Seperti yang pernah ditulis Dr Ing Agus Maryono dari Jurusan Teknik Sipil-Hidro Universitas Gadjah Mada, berbagai negara maju, seperti Jerman, Amerika, Kanada, dan berbagai negara Eropa, sudah menerapkan ekohidrologi dekade 1980-an.

Ini ditandai dengan mengembalikan sungai yang diluruskan jadi berkelok-kelok alami, memfungsikan lagi daerah retensi air seperti rawa-rawa untuk menyerap air sekaligus kawasan konservasi, dan penanaman kembali bakau di daerah pantai.

Di Indonesia kesadaran akan ekohidrosistem terkait dengan hadirnya Asia Pasific Centre for Ecohydrology (APCE) di Cibinong, yang sejak tahun 2000 dikelola Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Implementasinya? Itu yang masih ditunggu. (nes)

Post Date : 10 Desember 2005