Dua Tewas, 387 Rumah Terendam Banjir

Sumber:Kompas - 20 April 2011
Kategori:Banjir di Luar Jakarta

Atambua, Kompas - Dua warga Desa Umatoos, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, tewas terseret banjir saat mencari siput dan kepiting di tepi pantai Umatoos. Banjir itu juga merendam 387 rumah warga di empat desa dan sekitar 232 hektar lahan pertanian warga setempat.

Banjir akibat meluapnya Sungai Benanain terjadi sejak 3 April, bahkan volume air cenderung meningkat. Sebelumnya, ketinggian air maksimal 80 sentimeter, kini satu meter.

Camat Malaka Barat Eduardus Klau, dihubungi di Besikama, ibu kota Kecamatan Malaka Barat, Selasa (19/4), mengatakan, dua korban tewas itu kakak beradik, yakni Maria Luruk (24) dan Antonia Luruk (23). Keduanya tewas di bibir pantai Umatoos, Selasa (19/4) pukul 08.40 Wita.

”Saat mengambil siput dan kepiting, tiba-tiba datang banjir dari muara Sungai Benanain. Keduanya tidak sempat melarikan diri karena lebar muara hampir 500 meter, dan keduanya berada di tengah muara,” kata Klau.

Luapan Sungai Benanain terjadi mendadak tanpa hujan di Belu. Warga biasanya mengamati akan datang banjir kalau muncul kabut hitam dan awan tebal di wilayah Timor Tengah Utara dan Timor Tengah Selatan. Kedua korban diduga tak memantau kondisi cuaca.

Jenazah Maria ditemukan di Halok, dekat muara Benanain, dan adiknya, Antonia, masih dicari. Diduga, korban terseret ombak ke perairan Timor Leste.

Awal Maret lalu, di lokasi serupa juga dua orang nelayan tewas terseret ombak. Jenazah kedua nelayan itu pun ditemukan warga Timor Leste dekat perairan Atapupu, Belu.

Menurut Klau, empat desa di Malaka Barat juga terendam banjir yakni Umatoos, Lasaen, Favoe, dan Desa Sikun. Ketinggian air sekitar 1,5 meter. Banjir merendam sekitar 387 unit rumah.

Tiga pekan terakhir, warga Kecamatan Malaka Barat terendam banjir. Kondisi banjir makin meluas, sementara penanganan terhadap banjir belum dilakukan.

Mengungsi

Jumlah pengungsi kini mencapai 357 keluarga atau 2.540 orang. Mereka tersebar di kantor Camat Malaka Barat, rumah ibadah, puskesmas, dan gedung sekolah. Sekitar 232 hektar ladang padi, umbi-umbian, dan kacang hanyut akibat banjir.

Banjir juga melanda sejumlah kampung dan lahan pertanian di Kupang Timur, Kabupaten Kupang, NTT, Senin hingga Selasa (19/4). Sekitar 432 unit rumah masih dikepung lumpur. Korban belum sempat berbenah karena mendung tebal masih menggelayut, bahkan memasuki petang hujan mengguyur lagi.

Bencana banjir yang menggenangi 432 unit rumah itu terbanyak di Kelurahan Naibonat sebanyak 175 rumah. Menyusul di Desa Pukdale (100), Kelurahan Oesao (91), dan Kelurahan Merdeka (66). Tidak ada korban jiwa dalam bencana ini, namun jumlah rumah terendam diperkirakan bertambah. ”Data ini masih bersifat sementara karena sebagian laporan masih ditunggu,” kata Camat Kupang Timur, Monarchi LM Bethan, Selasa siang.

Sementara itu, korban hilang yang tertimbun material longsoran pada kawasan Kelok Ambacang di Jorong Limo Bada, Nagari Malalak Timur, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, ditemukan tewas pada Senin (18/4) malam. Korban atas nama Arman Datuak (49), yang juga menjabat sebagai Sekretaris Kecamatan Malalak, itu pada Selasa (19/4) telah dimakamkan.

Senin (18/4) malam, juga terjadi kecelakaan di tambang bawah tanah di Deep Ore Zone (DOZ) PT Freeport Indonesia. Menurut Kabid Humas Polda Papua, Kombes Wachyono, kecelakaan itu menewaskan satu pekerja, Obet Tatogo. Satu pekerja lainnya, Hamdani, masih dicari. (KOR/ANS/INK/JOS)



Post Date : 20 April 2011