Degradasi Hulu Sungai Penyebab Banjir

Sumber:Kompas - 25 Agustus 2010
Kategori:Banjir di Luar Jakarta

Putussibau, Kompas - Degradasi lingkungan di hulu Sungai Kapuas menjadi salah satu penyebab banjir yang merendam sejumlah wilayah Putussibau, ibu kota Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Banjir di Putussibau terjadi hampir setiap tahun sejak 2007.

Tenaga staf World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia Kantor Putussibau, Yudiati Puspitasari Vivin, yang dihubungi dari Pontianak, Selasa (24/8), mengatakan, sebagian kawasan hutan di hulu Sungai Kapuas rusak akibat aktivitas berladang.

Banjir akibat luapan Sungai Kapuas mulai surut. Namun, Jalan Ahmad Dogom dan perumahan Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu di sekitar jalan itu masih terendam. Selasa sore, genangan di kompleks perumahan masih setinggi dada.

Banjir di Putussibau juga disebabkan oleh faktor geografis. Hulu Sungai Kapuas merupakan perbukitan, sedangkan Kota Putussibau berupa dataran rendah.

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu Jantau mengatakan, hari Selasa aktivitas perkantoran mulai normal.

Banjir kiriman dari hulu Sungai Kapuas mudah terjadi di Putussibau, lebih-lebih jika hujan turun agak lama. Penyebabnya, anak Sungai Kapuas, yakni Sungai Mendalam dan Sungai Sibau, bermuara di Putussibau.

Sawah lebak

Meski telah masuk akhir bulan Agustus, genangan air di sawah lebak di Provinsi Kalimantan Selatan masih cukup tinggi. Akibatnya, banyak petani belum bisa menanam padi.

Waktu tanam yang singkat berisiko gagal panen karena tanaman padi akan terendam pada musim hujan berikutnya. Apalagi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi musim hujan 2010 akan datang pada bulan Oktober.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalsel Sriyono, Selasa, mengatakan, lahan yang ditanami baru 30 persen dari total 90.000 hektar sawah lebak yang biasa ditanami di Kalsel.

”Hampir semua lebak sudah ditanami, namun persentase penanamannya kecil. Tahun ini hampir tidak ada musim kemarau, lahan yang tergenang sulit ditanami,” ujarnya.

Di Kabupaten Hulu Sungai Utara, dari 29.000 hektar lahan, yang bisa ditanami 10.000 hektar. Begitu pula di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, ada 6.000-an hektar lahan yang belum ditanami dari sekitar 8.000 hektar.

Umur padi yang sudah ditanam bervariasi antara satu minggu hingga menjelang panen. Sawah yang kini menjelang panen umumnya ditanami pada bulan April-Mei lalu.

Menurut Sriyono, padi yang sudah dewasa umumnya tidak terlalu terpengaruh kondisi air. ”Hanya padi muda yang terpengaruh. Batangnya membusuk jika terendam air,” katanya.

Sriyono menyatakan, kondisi cuaca tahun ini sulit ditebak. Padahal, pada periode musim tanam bulan Oktober sampai Maret yang diteruskan April-Mei lalu terjadi penambahan luas tanam 70.000 hektar.

”Kami belum tahu berapa produksi beras tahun ini. Daerah yang sudah panen pada Januari-April 2010 produksinya mencapai 380.000 ton. Tahun lalu, produksi gabah kering giling Kalsel 1,956 juta ton, naik sedikit dibandingkan tahun sebelumnya yang 1,954 juta ton,” ujarnya.

Terendam air

Ditemui secara terpisah, Kepala Bagian Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalsel Akhmad Arifin mengatakan, sejauh ini belum ada daerah di Kalsel yang terendam air. Rendaman terakhir terjadi minggu ketiga Juli lalu, yakni di Kabupaten Tanah Bumbu, Tanah Laut, dan Kota Baru.

Lahan pertanian di Kalsel pernah dilanda banjir pada Maret-April lalu. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalsel, luas persawahan yang tergenang mencapai 6.600 hektar. Sriyono mengatakan, pemprov memberikan bantuan 60 ton benih padi untuk tiga kabupaten, yaitu Tapin, Tanah Bumbu, dan Banjar. (AHA/WER)



Post Date : 25 Agustus 2010