BANJIR-TANAH LONGSOR DI BERBAGAI DAERAH ; 1 Tewas, Ratusan Rumah Terendam

Sumber:Kedaulatan Rakyat - 19 Desember 2005
Kategori:Banjir di Luar Jakarta
PURWOREJO (KR) - Hujan deras yang mengguyur wilayah DIY dan Jawa Tengah, Sabtu (17/12) malam hingga Minggu (18/12) pagi, menyebabkan bencana banjir dan tanah longsor di sejumlah daerah di DIY dan Jateng. Bencana itu tidak hanya mengakibatkan kerugian harta benda, namun juga membawa korban jiwa.

Sedikitnya tujuh rumah penduduk rusak berat dan lainnya terendam air akibat bencana tanah longsor dan banjir yang melanda wilayah Kabupaten Purworejo. Akibat peristiwa itu, seorang tewas dan tiga lainnya luka-luka akibat rumahnya tertimpa tanah longsor.

Korban tewas Ny Paesi (80) warga Desa Purbowono Kecamatan Kaligesing Purworejo. Sedang Mujiono (35) dan istrinya Ny Ngatijah (33) serta seorang anaknya Sri Purwanti (17), mengalami luka-luka dan kini dirawat di Rumah Sakit Saras Husada Purworejo.

Kedua rumah milik Ny Paesi dan anaknya Mujiono yang berdampingan itu rusak total dan nyaris rata dengan tanah. Peristiwa itu terjadi Sabtu (17/12) malam sekitar pukul 21.00. Korban baru berhasil dievakuasi sekitar pukul 23.00 di tengah hujan deras. Namun nyawa Ny Paesi tidak dapat diselamatkan.

Sementara itu sepanjang malam Minggu juga terjadi tanah longsor di berbagai tempat di Purworejo. Di Kecamatan Kaligesing, selain menimpa rumah Ny Paesi dan Mujiono, tanah longsor juga menimpa rumah Ny Parmi (48) warga Desa Kaligono hingga rusak berat. Di Desa Kaliharjo tanah longsor menutup Jl Purworejo-Kaligesing sepanjang kurang lebih 4 meter dengan lebar 3 meter. Jalur ini tertutup total, namun sebagian longsoran kemarin langsung dibersihkan warga sehingga lalulintas dapat terbuka kembali.

Di jalur Purworejo-Kaligesing hingga Purbowono sepanjang kurang lebih 30 km, terjadi beberapa titik tanah longsor kendati tidak sampai menutup badan jalan.

Sedang tanah longsor di Kecamatan Pituruh mengakibatkan dua rumah penduduk rusak berat, yakni milik Misran dan Maniso. Namun peristiwa di Pituruh ini tidak sampai merenggut korban jiwa.

Selain itu jembatan Desa Donorati, Kecamatan Purworejo putus total hingga jalur itu tidak lagi dapat dilewati.

Hujan lebat yang mengguyur Purworejo sejak Sabtu (17/12) sekitar pukul 15.00 hingga Minggu (18/12) pagi juga mengakibatkan banjir terutama di Kecamatan Butuh, Pituruh, Purwodadi, dan Bagelen.

Di sejumlah desa, air masuk rumah hingga ketinggian 50 cm, jelas Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) Purworejo Drs Sunarto.

Bupati Purworejo H Kelik Sumrahadi SSos MM yang langsung meninjau lokasi tanah longsor di Desa Purbowono mengatakan, dalam kondisi seperti sekarang ini warga yang bertempat tinggal di daerah rawan longsor harus selalu waspada. Terutama jika turun hujan dalam tempo yang cukup lama.

Banjir juga kembali terjadi di Kulonprogo. Puluhan rumah penduduk di sebagian wilayah Desa Margosari Pengasih, Desa Wates dan Desa Giripeni Wates, terendam air akibat meluapnya banjir Sungai Serang, Sabtu (17/12) malam. Banjir kali ini merendam kembali rumah-rumah penduduk di Panjatan.

Banjir datang sekitar pukul 20.00 WIB. Malam itu juga warga meninggalkan rumah, menumpang ke rumah tetangganya yang aman. Sekitar pukul 03.00 dini hari, air sudah kembali surut tetapi dalam rumah sudah dipenuhi lumpur, tutur Jabir (43), warga Karang Tengah Margosari Pengasih.

Bupati Kulonprogo H Toyo Santoso Dipo bersama Kepala Kantor Kesatuan Kebangsaan dan Perlindungan Masyarakat Drs Herry Santoso, sekitar pukul 01.00 WIB dinihari meninjau lokasi pemukiman penduduk yang kebanjiran. Wilayah yang kebanjiran berada di seberang Sungai Serang perumahan Dayakan.

Data sementara menyebutkan, tidak ada korban jiwa dalam musibah kali ini. Rumah penduduk yang terendam air di Pedukuhan Karang Tengah RT 10 sebanyak 28 KK, RT 9 sebanyak 6 KK. Sedang di Pedukuhan Karang Tengah Lor sebanyak 22 KK.

Luapan banjir Sungai Serang juga merendam rumah penduduk di bagian hilir di wilayah Tegal Lembut dan Graulan Giripeni. Ketinggian air mencapai sekitar satu meter.

Air yang merendam rumah penduduk dan lahan pertanian di Kecamatan Panjatan akibat meluapnya Sungai Heisiro dan saluran drainase kemarin kembali terjadi, terparah Desa Depok dan Tayuban.

Akibat hujan deras Sabtu hingga Minggu kemarin, diperkirakan 150 rumah di lima lokasi Kecamatan Wates yang terendam banjir akibat Sungai Serang meluap. Pedukuhan Durungan RT 49 RW 22 yang paling parah. Karena pada pukul 22.00 WIB air yang menggenangi pemukiman penduduk setempat mencapai ketinggian 1,5 meter dan belum surut hingga dini hari.

Akibat hujan yang terus menerus mengguyur Banyumas dan Cilacap, menyebakan ratusan hektar sawah yang ditanami padi berumur satu bulan di empat kecamatan yakni, Kemranjen, Sumpiuh, Tambak dan Kroya, Cilacap, Minggu (18/12) terendam air setinggi 40 cm.

Di Kemranjen ada enam desa yang sawahnya terendam air. Tanaman padi yang terendam air mencapai luasan 311 hektar, dengan kerugian sekitar Rp 150 juta, kata Suryadi, Satpol PP Kecamatan Kemrajen.

Banjir juga terjadi di Sumpiuh mengakibatkan 175 hektar tanaman padi berumur 1 bulan di enam desa juga terendam air. Di Kecamatan Tambak Banyumas, sedikitnya 70 hektar tanaman padi berumur satu bulan terendam air setinggi 50 cm. Sementara di Kecamatan Kroya Cilacap, genangan air menenggelamkan sedikitnya 247 hektar tanaman padi berumur 2 bulan.

Akibat genangan banjir di Semanggi Pasar Kliwon Solo tidak kunjung surut hingga Minggu (18/12), warga khawatir terjangkit penyakit kulit dan muntaber. Warga juga mengeluhkan penanggulangan banjir oleh pemerintah terkesan lamban, menyusul curah hujan lebat tiga malam berturut-turut dan ambrolnya tanggul sungai di Semanggi.

Sedang Kabupaten Grobogan dinyatakan Siaga I berkait beberapa tanggul sungai di daerah itu kritis dan elevasi Sungai Tuntang dan Jragung di atas ambang batas. Seluruh Posko Satkorlak PBA tingkat kecamatan siaga penuh 24 jam. Beberapa tanggul sungai yang kondisinya kritis antara lain tanggul Sungai Tuntang di Desa Papanrejo, Kecamatan Gubug, tanggul Sungai Jragung, Curug dan Cangkring Kecamatan Tegowanu, dan tanggul Sungai Jajar Baru di Desa Anggaswangi Kecamatan Godong.

Yang paling parah tanggul Sungai Tuntang dan Sungai Jajar Baru, karena kedua tanggul tersebut dilaporkan telah jebol masing-masing sepanjang 5 meter akibat tidak mampu menampung luapan air dari kedua sungai tersebut.

Bupati Grobogan H Agus Supriyanto SE, Minggu (18/12) kepada KR, mengungkapkan, pihaknya telah memerintahkan seluruh petugas Satkorlak PBA kecamatan untuk melakukan piket 24 jam. Yang paling mengkhawatirkan Kecamatan Gubug dan Tegowanu, sehingga kami telah menyiapkan sekitar 2.000 karung plastik untuk mengantisipasi jika Sungai Tuntang dan KB-1 serta KB-15 meluap, agar tidak menggenangi pemukiman penduduk dan lahan pertanian, ungkapnya.

(Nar/Ras/M-2/Mum/Hwa/Tas/San)

Post Date : 19 Desember 2005