Banjir Rendam Mojokerto-Jombang

Sumber:Koran Sindo - 25 Maret 2011
Kategori:Banjir di Luar Jakarta

MOJOKERTO– Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Mojokerto dan Jombang pada Rabu (23/3) malam mengakibatkan banjir di sejumlah titik.

Di Mojokerto, banjir merendam tiga desa di Kecamatan Dawarblandong. Ratusan rumah warga terendam hingga satu meter. Selain rumah, beberapa hektare lahan pertanian juga ikut terendam. Banjir disebabkan meluapnya Kali Lamong yang melintasi desa tersebut. Banjir terparah terjadi di Dusun Balong, Desa Banyulegi. Sedikitnya 19 rumah terendam air hingga satu meter lebih.Jalanan di kampung itu juga lumpuh, sementara hingga pukul 11.00 WIB kemarin air belum juga surut.

Kondisi parah terjadi di Dusun Talun Brak, Desa Talunblandong. Sedikitnya 26 rumah terendam air setinggi meter. Sementara di Dusun Ngarus, Desa Banyulegi, sedikitnya 23 rumah terendam. Suhartono,warga Desa Banyulegi mengatakan, luapan air Kali Lamong mulai mengalir ke permukiman pada pukul 24.00 WIB dini hari kemarin. Pukul 03.00 WIB,ketinggian air memuncak. Bahkan, beberapa rumah terendam hingga ketinggian dada orang dewasa. ”Hujan mengguyur sejak sore hingga malam sebelumnya,” terangnya. Banjir seperti ini, kata Suhartono, menjadi musibah yang selalu diterima warga setiap musim hujan.Namun,upaya perbaikan infrastruktur untuk mencegah datangnya banjir belum juga dilakukan.

Warga sendiri seakan pasrah dengan banjir yang selalu datang saat hujan deras datang dalam waktu yang cukup lama. ”Sudah biasa,dan kami seakan putus asa,”ujarnya. Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Mojokerto Yudha Hadi mengatakan, pihaknya sudah memberikan bantuan bagi korban banjir di tiga desa itu. Bantuan yang diberikan berupa beras, mi, dan ikan kaleng.”Sementara,yang dibutuhkan memang itu (makanan). Karena, rata-rata para korban tak bisa memasak,” terangYudha. Sementara, di Jombang banjir menerjang lima desa di Kecamatan Ploso. Lima desa itu adalah Desa Jatigedong, Kedung Ombo,Pager Tanjung, Rejo Agung, dan Desa Ploso. Ketinggian air rata-rata mencapai satu meter.

Tak hanya melanda ratusan rumah warga, banjir juga merendam beberapa gedung sekolah dan mengganggu aktivitas belajar mengajar siswa. Dua sekolah yang kebanjiran adalah SMP Negeri I Ploso dan Madrasah Ibtidaiah (MI) Nidhomiyah, Desa Jatigedong. Siswa terpaksa mengikuti aktivitas belajar-mengajar dengan kondisi ruangan kelas terendam air.Karena parahnya banjir, siswa terpaksa dipulangkan lebih awal. Selain menggenangi gedung sekolah, banjir juga memutus akses jalan antardesa. Beberapa jalan penghubung desa menuju ke kota ikut lumpuh. ”Banjir seperti ini sudah empat kali terjadi selama musim ini,” terang Suharno Kepala Sekolah MI Nidhomiyah.

Dia berharap, pemerintah daerah setempat peduli dengan kondisi sekolahnya yang selalu menjadi langganan banjir.Selama ini pihaknya sudah melakukan upaya antisipasi dengan meninggikan lantai ruangan. ”Tapi,tetap saja kemasukan air. Kami berharap masalah ini segera diatasi,”harapnya. Banjir juga melanda wilayah Bojonegoro.Dari data yang dihimpun, banjir bandang melanda delapan kecamatan,yakni Kecamatan Padangan,Ngraho, Sumberejo,Kepohbaru,Kanor, Kalitidu, Dander,Trucuk, dan Kapas.Rumah yang terendam mencapai 155 unit lebih sementara persawahan 224 hektare. Menurut Supriyati, 32,warga Desa Ngablak,Kecamatan Dander,banjir bandang datang sejak pukul 08.00 WIB kemarin.

Banjir setinggi lutut itu berasal dari anak sungai Bengawan Solo yang mengalir di dekat perkampungan warga. “Banjir menggenangi jalan desa, persawahan, dan rumah penduduk,”ujarnya. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro Kasiyanto mengatakan, banjir bandang terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah Bojonegoro selama lebih tiga jam. “Banjir bandang itu berasal dari selatan Bojonegoro,”ujarnya. Banjir luberan anak Sungai Bengawan Solo terlihat di daerah Kalitidu, Padangan, Trucuk, dan Dander. Banjir menggenangi tanaman padi yang baru berumur 30–45 hari.

Dari laporan terakhir BPBD Kabupaten Bojonegoro, ketinggian air Sungai Bengawan Solo yang terpantau di papan duga dekat Pasar Bojonegoro berada di kisaran 14.17 pheilschaaldi atas permukaan air laut. Dengan ketinggian itu, status Sungai Bengawan Solo saat ini dinyatakan siaga dua.“Petugas terus memantau ketinggian air Sungai Bengawan Solo setiap jam,”ujar Kasiyanto. Untuk menahan air Sungai Bengawan Solo masuk daerah perkotaan, pihak BPBD telah menutup tiga pintu air yakni di Ledok,Karangpacar,dan Banjarejo. Selain itu,menutup pintu air di Semanding dan Kalirejo. muhammad roqib/ tritus julan



Post Date : 25 Maret 2011