Banjir Pasir Terjang 7 Desa di Tarogong

Sumber:Pikiran Rakyat - 21 Mei 2010
Kategori:Banjir di Luar Jakarta

GARUT, (PR).- Bencana banjir kembali melanda sejumlah wilayah di Garut, Bandung, dan Purwakarta. Di Garut banjir pasir kembali menerjang tujuh desa di wilayah Kecamatan Tarogong Kaler Kab. Garut, Kamis (20/5) malam. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, tetapi 125 rumah rusak dan ratusan rumah terendam banjir disertai material pasir dan lumpur setinggi 50 sentimeter hingga 1 meter.

Salah seorang pemilik rumah yang rusak berat, Nina (26), mengungkapkan, hujan turun cukup deras mulai pukul 18.00 WIB. "Sekitar pukul 22.00 WIB, air dari arah atas langsung masuk ke rumah saya sekaligus. Enggak ada yang bisa diselamatkan, semua barang basah kuyup bercampur pasir dan lumpur," katanya, ketika ditemui di kediamannya di RW 6 Kp. Cipulus, Desa Sukawangi Kec. Tarogong Kaler Kab. Garut, Kamis (20/5).

Tujuh desa yang terendam itu adalah Desa Panjiwangi, Sukawangi, Mekarwangi, Rancabango, Mekarjaya, Cimanganten, dan Tarogong yang masuk wilayah Kecamatan Tarogong Kidul. Sepanjang malam warga berjaga-jaga karena khawatir ketinggian air terus bertambah. Mereka dilanda kepanikan sampai tidak mampu menyelamatkan harta benda miliknya. Mereka hanya berlarian keluar rumah menyelamatkan diri untuk mengungsi ke sejumlah tempat yang lebih aman.

Ny. Aan (64), mengaku sudah bosan membersihkan rumah setiap hujan deras turun. Alasannya, rumahnya dipastikan akan kemasukan air bercampur material pasir dan lumpur. "Semalam mengungsi sebentar ke masjid. Setelah hujan agak reda, saya balik ke rumah. Tetapi, di dalam sudah penuh sama pasir dan lumpur. Akhirnya, saya hanya bisa duduk di dapur dan tidak bisa tidur semalaman. Bingung memikirkan banjir yang terus-menerus tapi tidak ada solusinya dari pemerintah," ucapnya.

Banjir pasir cukup besar di kawasan tersebut sempat terjadi 12 April 2010 lalu. Sedikitnya 17 rumah hancur dan 90 rumah lainnya terendam banjir. Bencana alam tersebut juga menyebabkan empat warga setempat mengalami luka berat.

Kehancuran terparah terjadi di Kampung Cipulus Desa Sukawangi. Jalan yang menghubungkan Desa Panjiwangi-Desa Sukawangi tergerus banjir dengan kedalaman sekitar 2 meter dan terputus sehingga tidak bisa dilalui kendaraan. Banjir juga merendam sekitar sepuluh hektare persawahan milik warga setempat.

Camat Tarogong Kaler Nandang Sulaksana mengaku, kejadian banjir bandang kali ini paling parah di antara banjir yang terjadi sebelumnya. Air sempat merendam Puskesmas Tarogong Kaler hingga sejumlah ruangan pasien kemasukan air. Namun, tidak dilakukan evakuasi ke luar bangunan karena debit air di luar jauh lebih besar.

"Kerugian akibat kejadian ini diperkirakan mencapai Rp 1,5 miliar. Sedikitnya 125 rumah warga rusak, tetapi masih kami telusuri lagi datanya," ucapnya.

Mengungsi

Di Purwakarta, ratusan kepala keluarga Desa Cikaobandung, Kecamatan Jatiluhur kembali harus mengungsi akibat meluapnya lagi Sungai Cikao, Kamis (20/5). Sebelumnya, Desa Cikaobandung selama hampir satu bulan lamanya terendam banjir saat curah hujan pada bulan kemarin mencapai puncaknya.

Kepala Desa Cikaobandung, Saeful Hidayat kepada "PR", Kamis (20/5) malam membenarkan bahwa sejak pukul 17.00 WIB, air dari Sungai Cikao kembali meluap. Akibatnya, ratusan rumah yang berada di sekitar aliran sungai kembali terendam dengan ketinggian air mencapai sekitar satu meter.

Diduga penyebab terjadinya banjir tersebut akibat hujan yang terjadi beberapa hari ini. "Jika curah hujan tinggi, air sungai biasa meluap sampai masuk ke rumah warga," katanya.

Dijelaskannya, seperti yang terjadi sebelumnya, banjir yang terjadi kali juga menggenangi ratusan rumah warga di lima kampung di Desa Cikaobandung, Kecamatan Jatiluhur, Purwakarta.

Tanggul jebol

Arus deras luapan Sungai Citarum membuat tanggul sepanjang 25 meter dengan ketinggian 8 meter di RT 2. RW 5 Kp. Pamuruyan, Desa Tanggulun, Kec. Ibun, jebol pada Kamis (20/5) dini hari. Akibatnya, sekitar empat ratus rumah tergenang banjir.

"Setelah ada penyodetan Sungai Citarum dan penanggulan sepanjang 1,6 kilometer, wilayah tersebut tak lagi tergenang banjir. Akan tetapi karena tanggul jebol, rumah kembali tergenang, dan 12 rumah rusak berat karena bagian dinding rumah ada yang jebol," kata Kepala Desa Tanggulun, Dudu Kosasih, ketika ditemui di Kantor Kec. Ibun, Kamis (20/5).

Selain itu, banjir juga menggenangi lima ratus rumah di RW 4. "Ketinggian banjir sekitar 75 sentimeter hingga 1 meter," kata Dudu. Air mulai surut sekitar pukul 4.00 WIB dan menyisakan lumpur.

Akibatnya, sebanyak 18 fasilitas keagamaan sempat terendam, dan 20 unit usaha kecil dan menengah (UKM) di desa tersebut tidak beroperasi.

Di Kec. Majalaya, banjir yang menggenangi sekitar 3.000 rumah di Desa Majasetra, Sukamaju, Majalaya, dan Majakerta pada Rabu (19/5) malam, menyisakan lumpur tebal pada Kamis (20/5) pagi. Lumpur tertinggi sekitar 30 sentimeter berada di Jln. Laswi.

Penyodetan

Sementara itu, penyodetan Sungai Citarum sepanjang 1,6 kilometer yang dilakukan secara swadaya di Kec. Ibun bulan lalu mampu mereduksi banjir di Kec. Ibun hingga tiga puluh persen.

Camat Ibun, Agus Suhartono mengatakan, penyodetan tersebut dilakukan mulai dari Kp. Radug, Desa Tanggulun, Kec. Ibun, hingga pertigaan Atirompe, Kec. Majalaya. (A-158/A-175/A-86)



Post Date : 21 Mei 2010