Banjir Menyergap pada Saat Lebaran

Sumber:Pikiran Rakyat - 13 September 2010
Kategori:Banjir di Luar Jakarta

MUNGKIN tidak terbayangkan sebelumnya oleh puluhan warga Kampung Cieunteung Kel./Kec. Baleendah Kab. Bandung, mereka harus berlebaran di pengungsian gara-gara banjir. Apalagi sekarang musim kemarau dan tanggul di sepanjang aliran Sungai Citarum yang melewati Cieunteung pun sudah selesai dibangun. Namun, itulah yang terjadi, karena banjir kembali merendam rumah mereka.

"Hujan deras sejak Selasa (7/9) malam dan Rabu (8/9) membuat Kampung Cieunteung banjir dengan ketinggian air lebih dari semeter. Banjir kali ini kiriman dari Kota Bandung ataupun Majalaya, selain hujan yang turun di sekitar Baleendah dan Dayeuhkolot," kata warga RW 20 Kampung Cieunteung, Saparman, di pengungsiannya di gedung salah satu partai politik, di Balendah, Minggu (12/9).

Saparman bersama istri dan empat anaknya sudah mengungsi ke tempat itu sejak Rabu malam. Anak bungsunya yang sekarang berusia tujuh bulan, Muhammad Rizki, juga lahir di pengungsian tersebut saat banjir Februari lalu. "Awalnya saya mau memberi dia nama Rezeki Banjir, tetapi cukuplah Muhammad Rizki, agar rezeki tetap lancar meski banjir," katanya.

Di pengungsian, para pengungsi juga harus memasak sendiri karena Pemkab Bandung belum menyalurkan bantuan apa pun. "Namun, Lebaran ini terpaksa tidak ada ketupat dan opor ayam. Saudara-saudara kami juga belum ada yang datang bersilaturahmi," kata Nia (36), istri Saparman.

Untuk menyambung hidup, Saparman terpaksa berjualan bakso ikan di sekitar pengungsian. "Kaki saya diamputasi karena kecelakaan lalu lintas tahun 2000 sehingga tidak bisa berjalan jauh," katanya.

Banjir juga membuat salat Idulfitri, Jumat (10/9), dilaksanakan seadanya. Warga Kelurahan Andir Kec. Baleendah, misalnya, melaksanakan salat Id di Jln. Raya Dayeuhkolot, tepatnya di atas jembatan Dayeuhkolot. Maksum Hidayat yang bertindak sebagai imam dan khotib salat Id, mengajak kepada para jemaah untuk tetap bertakwa kepada Allah SWT, meskipun dalam keadaan yang memprihatinkan. "Segala kejadian pasti ada hikmah yang dapat dipetik," katanya.

Maksum juga mengingatkan kepada jemaah untuk berintrospeksi. "Mungkin bencana banjir ini merupakan teguran dan peringatan kepada kita yang lupa mensyukuri nikmat karunia-Nya," katanya.

Agung Saefulloh (21) warga Jambatan RT 01 RW 01 Kel. Andir, Kec. Baleendah, Kab. Bandung, mengatakan, salat Id yang biasanya diikuti sebagian besar warga di kampungnya, sekarang hanya diikuti beberapa orang. "Mungkin sekarang ini warga melaksanakan salat Id tidak terfokus di satu tempat saja," ucapnya.

Menurut Agung, biasanya warga di kampungnya melakukan salat Id di sepanjang Jalan Andir. Namun, sekarang jalan tersebut tidak bisa digunakan karena terendam air. "Banjir pada saat Lebaran baru pertama kali saya rasakan," ujarnya. (Sarnapi/Ecep/"PR")



Post Date : 13 September 2010