Banjir Melanda Luwu Utara

Sumber:Kompas - 11 Oktober 2010
Kategori:Banjir di Luar Jakarta

MAKASSAR, KOMPAS - Hujan deras yang berlangsung 7-8 Oktober lalu menyebabkan banjir di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, kemarin. Banjir akibat luapan Sungai Lamasi, Rongkong, dan Makawa itu merendam ratusan rumah di enam kecamatan, yakni Mappedeceng, Baebunta, Lamasi, Lamasi Timur, Walenrang, dan Walenrang Utara.

Sejumlah daerah di Luwu Utara menjadi langganan banjir setiap musim hujan. Namun, banjir kali ini merupakan yang terparah mengingat aktivitas warga di lima desa lumpuh akibat terisolasi. Banjir juga menerjang ribuan hektar perkebunan kakao, sawah, dan tambak udang.

Kepala Dinas Penanggulangan Bencana Alam Kabupaten Luwu Utara Rudi Dappi mengatakan, bantuan air bersih belum dapat disalurkan ke daerah-daerah yang terkurung banjir. Pemerintah kabupaten tengah mengkaji upaya pembuatan saluran pembuangan air menuju ke sungai untuk menurunkan ketinggian banjir.

”Saluran pembuangan yang ada tidak terintegrasi dengan sungai sehingga air akan meluap jika curah hujan tinggi. Untuk sementara, kami akan membuat saluran pembuangan sepanjang 700 meter sebelum normalisasi sungai sebagai program jangka panjang,” kata Rudi.

Saat ini pemerintah telah mendirikan tenda pengungsian di sejumlah tempat, seperti Masjid Raya Masamba (ibu kota Luwu Utara) dan kantor bupati.

Rob di Padang

Di Kota Padang, Sumatera Barat, sekitar 1.000 rumah pada Sabtu malam lalu tergenang banjir rob akibat air laut pasang naik. Genangan air di rumah-rumah warga yang berada di wilayah Kelurahan Berok Nipah, Kecamatan Padang Barat, mencapai ketinggian lutut orang dewasa.

Jalan Nipah yang terletak persis di depan perkampungan warga juga digenangi air. Hingga kemarin sejumlah warga masih sibuk membersihkan rumah mereka, yang sebelumnya digenangi air laut. ”Kondisi memang sudah aman, tetapi badan yang sakit-sakit semua,” kata Yanti (45), sembari menambahkan, banjir rob itu mencapai puncaknya pada Sabtu malam setelah dua hari sebelumnya mulai menampakkan gejala luapan air laut.

Asrul Putra (47), Ketua Masjid Nurul Yakin di Kelurahan Berok Nipah, mengatakan, banjir rob kali ini melanda 1.000-an rumah yang tersebar di 24 RT dalam empat RW. ”Jika satu RT ada sekitar 50 rumah, sekitar 1.000 rumah tergenang banjir rob ini,” paparnya.

Genangan air laut itu, lanjutnya, bahkan masuk ke dalam Masjid Nurul Yakin dan membuat ruang utama masjid tidak bisa dipergunakan. Wisnarmon (42), warga di permukiman yang dilanda banjir rob, mengatakan, sebelumnya tidak pernah air laut sampai menggenangi rumah-rumah warga.

”Banjir rob terakhir terjadi tahun 2007, tetapi itu pun tidak separah sekarang,” kata Wisnarmon. Ia menduga, parahnya banjir kali ini diakibatkan oleh pendangkalan di bagian muara sungai yang dekat dengan Pelabuhan Muaro.

Sejumlah bangunan yang didirikan di lokasi tersebut diduga menjadi penyumbang terbesar terjadi pendangkalan. ”Selain itu, gorong-gorong di pinggir jalan juga jarang dibersihkan. Kalau dulu biasanya satu kali dalam tiga bulan dibersihkan, ini sudah beberapa tahun terakhir tidak pernah lagi dibersihkan,” kata Wisnarmon.

Hendra Akmal (38), salah seorang tokoh pemuda setempat, mengatakan, warga sudah berencana menggelar aksi jika pendangkalan muara sungai yang menyebabkan banjir rob semakin menjadi tidak juga ditanggulangi. ”Saat ini saja tidak ada satu aparat pemerintah pun yang datang ke lokasi menengok warga yang terkena bencana ini. Camat pun tidak datang,” ujarnya.

Menanggapi keluhan warga, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang Dedi Henidal mengatakan, upaya pengerukan sungai sudah dirancang untuk mengurangi efek pendangkalan. ”Pengerukan segera dilakukan,” katanya.

Tentang warga korban banjir rob, menurut Dedi, mereka belum memerlukan penanganan khusus. ”Ini karena perubahan cuaca. Setelah bertahun-tahun tidak ada, baru tahun ini datang lagi,” ujarnya.

Secara terpisah, Kepala Seksi Observasi dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Stasiun Meteorologi Ketaping Padang Pariaman Syafrizal mengatakan, banjir rob masih akan terjadi dalam waktu satu hingga dua hari ke depan. Sejumlah wilayah di pesisir pantai diperkirakan akan mengalami hal serupa. ”Banjir rob terjadi karena perubahan gaya gravitasi yang lazim terjadi saat bulan baru dan bulan purnama sebagai penyebab terjadinya pasang air laut,” ujar Syafrizal.

Terisolasi

Di Putussibau, Kalimantan Barat, banjir akibat luapan Sungai Kapuas dan dua anak sungainya menyebabkan ibu kota Kabupaten Kapuas Hulu itu terisolasi. Moda transportasi darat lumpuh total selama dua hari.

Sepanjang Jumat dan Sabtu lalu, masyarakat kesulitan masuk atau keluar dari Putussibau. Tenaga Ahli Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Nyoman Suharta, yang dihubungi kemarin, mengatakan, pihaknya berencana kembali ke Jakarta melalui Pontianak dengan menggunakan jalan darat, Jumat lalu, setelah menyelesaikan tugas terkait masalah perbatasan. ”Namun, hingga Sabtu jalan darat ke Pontianak (ibu kota Kalimantan Barat) tidak bisa digunakan,” katanya.

Nyoman dan seorang anggota staf Kementerian PDT lain akan mencoba alternatif jalan darat dengan melalui Nanga Badau, perbatasan Kabupaten Kapuas Hulu dengan Lubuk Antu, Negara Bagian Serawak, Malaysia. ”Namun, alternatif itu tidak bisa kami ambil karena jalan dari Putussibau ke Nanga Badau juga tidak bisa dilalui. Masyarakat melarang kami karena banyak mobil yang terbenam lumpur di jalan hingga setengah badan mobil. Jalan rusak parah ketika musim hujan,” kata Nyoman.

Jika bisa sampai ke Lubuk Antu, tersedia akses jalan darat di Negara Bagian Serawak menuju Pos Pemeriksaan Lintas Batas Entikong. Dari Entikong, perjalanan darat relatif lancar ke Pontianak. Dari Lubuk Antu juga tersedia akses jalan menuju Kuching, Negara Bagian Serawak, yang memiliki akses penerbangan langsung ke Jakarta.

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Kabupaten Kapuas Hulu Jantau mengatakan, akses jalan darat dari Putussibau ke Pontianak terputus oleh banjir di sekitar Kalis. ”Namun, Sabtu sore genangan antara Putussibau dan Kalis sudah turun,” kata Jantau.

Ia menambahkan, pada Sabtu lalu Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu menyalurkan bantuan bahan makanan kepada masyarakat korban banjir di beberapa kecamatan, seperti Embaloh dan Bunut. Selama banjir tidak ada posko pengungsian karena masyarakat mengungsi ke rumah kerabat. Bantuan langsung disalurkan ke wilayah-wilayah yang paling parah,” kata Jantau. (RIZ/AHA/INK)



Post Date : 11 Oktober 2010