Banjir di Sulsel Membuat Warga Dua Desa Terisolasi

Sumber:Kompas - 8 April 2005
Kategori:Banjir di Luar Jakarta
Makassar, Kompas - Banjir yang melanda empat provinsi, yaitu Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, Lampung, dan Jambi, hingga Kamis (7/4) kemarin masih cukup tinggi. Dari Kalimantan Barat pun dilaporkan, kota Putussibau, ibu kota Kabupaten Kapuas Hulu, kemarin juga dilanda banjir.

Sejauh ini banjir menyebabkan belasan desa, puluhan sekolah, dan ribuan hektar sawah di Sumatera Selatan (Sumsel), Lampung, Jambi, dan Sulawesi Selatan (Sulsel) terendam. Ribuan hektar tanaman kakao di Kabupaten Luwu, Sulsel, juga mengalami hal serupa.

Banjir di sejumlah kawasan di Kabupaten Luwu Utara (Lutra) dan Luwu Timur (Lutim) cukup meresahkan petani. Di Lutra dari 11 kecamatan yang ada, delapan kecamatan dilanda banjir. Bahkan, dua desa di Kecamatan Baebunta terisolasi dan lumpuh. Di Lutim sedikitnya tiga kecamatan terendam air.

Informasi yang diperoleh kemarin, ketinggian air rata-rata masih satu meter. Air menggenangi kawasan permukiman penduduk dan lahan perkebunan, terutama tanaman kakao. Yang memprihatinkan, luapan air membuat banyak wilayah terisolasi. Genangan air setinggi satu meter memutuskan hubungan desa-desa itu dengan kawasan lainnya.

Dua desa yang terisolasi adalah Desa Lawewe yang dihuni 1.100 penduduk dan Desa Lembang-lembang yang berpenduduk 2.109 jiwa. Kedua desa tersebut terletak di Kecamatan Baebunta, Lutra. Saat ini di dua desa itu tidak ada kegiatan sama sekali. Semua aktivitas masyarakat lumpuh total. Mereka tidak bisa bergerak karena seluruh kawasan desa terkepung air. Untuk pergi ke lahan perkebunan dan pertanian tidak mungkin karena semuanya terendam air.

"Kondisinya parah. Hubungan darat terputus. Masyarakat tidak bisa melakukan aktivitas. Boleh dikatakan semua kegiatan lumpuh. Sementara mereka mulai kesulitan bahan makanan. Saya mendapat informasi, sebagian masyarakat sudah mulai makan jagung yang tersisa," kata Ritha Ikhsan, Kepala Kantor Informasi dan Komunikasi Luwu Utara, Kamis.

Dari 11 kecamatan di Lutra, delapan kecamatan terendam. Di Kecamatan Malangke, Lutra, 10 desa yang terendam.

Banjir juga melanda kabupaten tetangga Lutra, yaitu Lutim. Sedikitnya tiga kecamatan di kabupaten itu tergenang, yaitu Mangkutana, Wotu, dan Tomoni. Kemarin ketinggian air rata-rata satu meter. Hal tersebut merupakan akibat dari meluapnya Sungai Kalaena.

Tiga desa yang terendam di Kecamatan Mangkutana adalah Desa Margolimbo, Pertasi Kencana, dan Kalaena. Di Kecamatan Wotu tercatat dua desa yang terendam, yaitu Bahari dan Kalaenakiri.

Di Kecamatan Tomoni ada tanggul yang jebol. Bahkan, jalan poros trans-Sulawesi pada ruas antara Wotu dan Malili sepanjang hampir satu kilometer tergenang air. Sepanjang siang kemarin hujan tidak turun sehingga genangan air bisa dilalui kendaraan.

Camat Mangkutana Andi Zainal mengatakan, kawasan yang terkena banjir umumnya merupakan lahan perkebunan kakao dan persawahan. "Yang juga rusak adalah jalan yang tergerus air. Yang dikhawatirkan justru pada malam hari. Biasanya air naik lagi, terutama bila hujan turun," ujar Andi Zainal.

Putussibau

Akibat hujan sejak malam hingga dini hari dan meluapnya air Sungai Kapuas, kota Putussibau, Kamis, terendam air dengan ketinggian 50 sentimeter hingga 1,5 meter. Banjir menyebabkan sebagian besar aktivitas sosial ekonomi masyarakat lumpuh. Beberapa jalan utama di kota yang terletak sekitar 714 kilometer dari Pontianak itu terendam sehingga menyatu dengan aliran Sungai Kapuas.

Beberapa warga Putussibau yang dihubungi kemarin mengungkapkan, banjir yang melanda kota ini menyebabkan para pegawai Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu tidak masuk kerja. Sebagian besar sekolah taman kanak-kanak hingga sekolah menengah umum di kota itu juga diliburkan.

Situasi yang tidak menguntungkan juga terjadi di Sumsel. Sekitar 50 sekolah di Kabupaten Musi Banyuasin dan Ogan Ilir serta kota Palembang terendam luapan Sungai Musi dan Sungai Ogan.

Banjir yang terjadi dalam sepekan terakhir mengakibatkan kegiatan belajar-mengajar di beberapa sekolah tidak berjalan atau dipindahkan ke tempat lain.

Menurut Kepala Bagian Umum Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir Sopian Kasim, Kamis, sebagian besar sekolah yang dilanda banjir di kabupaten itu terletak di tepi Sungai Ogan. "Di Kecamatan Rantau Alai yang menjadi lokasi banjir terparah di Ogan Ilir terdapat 23 sekolah yang terendam antara 30 sentimeter hingga satu meter. Tiga sekolah rusak parah akibat diterjang banjir," kata anggota Sopian, yang juga anggota Satuan Koordinasi Penanggulangan Bencana Ogan Ilir.

Aktivitas belajar-mengajar di ketiga sekolah itu dan beberapa sekolah lain, menurut Sopian, diliburkan dan para murid diberi tugas belajar di rumah. Siswa, katanya, diliburkan jika sekolah tergenang.

Selain di Rantau Alai, air juga merendam beberapa sekolah di Kecamatan Pemulutan dan Tanjung Raja. Di SD Negeri 02-04 Pelabuhan Dalam, Pemulutan, kegiatan belajar-mengajar tetap dilangsungkan meski banjir menggenangi halaman sekolah sampai batas lantai kelas. Semua siswa masuk sekolah karena hari-hari ini merupakan masa tes bagi mereka.

Di Musi Banyuasin banjir menggenangi 19 sekolah yang sebagian besar adalah SD. Banjir tersebut melanda sekolah-sekolah di Kecamatan Sekayu, Babat Toman, Sungai Lais, dan Sanga Desa. Menurut Kepala Dinas Pendidikan Musi Banyuasin Ade Karyana, halaman sekolah-sekolah itu digenangi luapan air Sungai Musi.

Di Palembang sekolah-sekolah yang digenangi air juga terletak di tepi sungai. SD 328-329 di kawasan Plaju sudah diliburkan sejak Senin lalu karena ruang kelas yang ada digenangi air. Sementara itu, SMP Pembangunan yang berada di tepi Sungai Keramasan harus memindahkan aktivitas belajar ke gedung sekolah lain karena lantai kelas di sekolah itu tergenang.

Di Provinsi Jambi banjir akibat meluapnya Sungai Batanghari yang melanda Kota Jambi dan Kabupaten Muaro Jambi kemarin mulai surut. Namun, lebih dari 10.000 rumah penduduk di Kecamatan Danau Teluk, Pelayangan, Telanaipura, Jambi Timur, dan Pasar Jambi (Kota Jambi), serta Kecamatan Jambi Luar Kota, Sekernan, Kumpeh Ulu, dan Maro Sebo (Kabupaten Muaro Jambi) masih terkepung banjir.

Berkaitan dengan masalah banjir ini Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung, berjanji segera mengirimkan bantuan kepada ribuan warga di dua kecamatan yang rawan pangan akibat banjir. Bantuan itu di antaranya berupa beras dan mi instan senilai Rp 200 juta. (IRN/ECA/IAM/NAT/FUL/SSD)

Post Date : 08 April 2005