Banjir Bandang Sapu 3 Desa

Sumber:Koran Sindo - 17 September 2010
Kategori:Banjir di Luar Jakarta

TRENGGALEK(SINDO) – Sedikitnya tiga desa di Kecamatan Watulimo,Kabupaten Trenggalek, diterjang banjir bandang yang meluap dari sungai setempat Rabu malam (15/9).

Sejumlah rumah penduduk rusak dalam musibah ini. Banjir luapan air hujan yang tidak tertampung dalam bantaran Sungai Ngemplak ini merendam sebagian rumah warga Desa Sawahan, Desa Margomulyo, dan Desa Prigi. Air juga sedikit meluber ke permukiman warga Desa Tasikmadu dan Karanggandu meski tidak sampai masuk rumah. Meski arus dengan ketinggian seperut orang dewasa itu sangat deras,banjir yang datang mulai pukul 21.30 WIB itu hanya berlangsung sekitar satu jam setengah. Menurut Keterangan Kabag Humas dan Protokol Pemkab Trenggalek Yoso Minhardi, sekitar pukul 23.30 WIB, air sudah tidak tersisa lagi di permukiman warga.

“Yang tertinggal hanya lumpur bercampur material kayu dan batu,”ujarYoso kepada SINDO. Sementara, lanjut Yoso,malam itu hujan masih mengguyur wilayah Kabupaten Trenggalek sebelah selatan yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan. Khawatir akan datangnya banjir bandang susulan,sejumlah warga yang terdiri atas perempuan, orang tua,dan anak-anak memilih mengungsi. Sementara sebagian besar pria dewasa membantu membersihkan puing-puing dua rumah milik Sugeng dan Syamsuri,warga Dusun Gendingan,Desa Prigi,yang rata dengan tanah.

Gotong-royong warga berlanjut pagi hari dengan membenahi jembatan Desa Margomulyo dan Desa Sawahan.Bangunan jembatan yang ambrol setelah tak mampu menahan sampah kayu dan batu yang menyumbat bagian bawahnya.“ Untungnya saat ambrol, tidak ada pengguna jalan yang melintas di atasnya,“ terang Yoso. Melihat warna air yang kecokelatan, ditambah sampah kayu dan batu dengan jumlah besar,musibah banjir bandang yang melanda permukiman nelayan ini disebabkan gundulnya hutan yang mengelilingi sepanjang wilayah Kecamatan Watulimo. Menurut Yoso, dari 14 kecamatan yang membagi wilayah Kabupaten Trenggalek, 11 kecamatan di antaranya berupa daerah pegunungan.

Celakanya,sebagian besar area hutan yang mendominasi wilayah 11 kecamatan itu telah gundul. Karenanya, selain banjir bandang, menurut Yoso, musibah tanah longsor juga mengintai keselamatan warga Trenggalek setiap musim penghujan datang. Selain mengulurkan bantuan, termasuk mengirim puluhan ton beras dan minyak goreng kepada warga yang tertimpa musibah,Yoso mengimbau agar semua warga senantiasa waspada. Banjir bandang juga terjadi di Desa Kalisumber,Kecamatan Temayang, Bojonegoro.

Akibatnya, jalur Bojonegoro–Nganjuk tergenang air hingga ketinggian 40 cm. Lalu lintas pun lumpuh lantaran kendaraan tak berani melintas. Banjir mulai terjadi sekitar pukul 15.00 WIB kemarin akibat hujan yang terus mengguyur wilayah selatan Bojonegoro ini. Sungai Puden yang mengalir ke Waduk Pacal tak lagi mampu menampung air yang terlalu banyak sehingga air sungai meluber ke permukiman dan jalan antarkabupaten tersebut. Menurut Camat Temayang Supi Hariyanto,air yang bercampur lumpur itu menggenangi jalan sepanjang 100 meter dengan ketinggian rata-rata 30–40 cm. Akibatnya terjadi kemacetan di jalur tersebut.

Bus dan kendaraan pribadi tak berani melintasi jalan karena arusnya deras.“Sampai sekarang genangan masih tinggi,”ujarnya. Dia menjelaskan, selain menggenangi jalan raya, air juga menggenangi permukiman warga dengan ketinggian rata-rata 50 cm. Warga sendiri saat ini sedang menyelamatkan barang-barang berharga dari amukan banjir bandang tersebut. Lebih dari 30 rumah terendam air. (solichan arif/ nanang fahrudin)



Post Date : 17 September 2010