Baleendah Terendam 2 Meter

Sumber:Kompas - 11 Desember 2010
Kategori:Banjir di Luar Jakarta

BANDUNG, KOMPAS - Banjir yang merendam Kelurahan Andir dan Kelurahan Baleendah di Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, terus naik hingga mencapai 2 meter. Hingga Jumat (10/12) sore, rumah warga yang terendam di dua kelurahan itu 6.913 unit.

Banjir pun meluas hingga menutup jalan yang menghubungkan Baleendah dengan Banjaran di Bandung selatan. Air bah mengakibatkan banyak kendaraan bermotor mogok di jalan.

Untuk mengatasi kepadatan kendaraan di lokasi banjir, pengendara yang menuju Baleendah dan Pangalengan dari arah Kota Bandung diminta memutar dengan melintasi Jalan Terusan Buahbatu-Bojongsoang. Penumpukan kendaraan pun terjadi di ruas itu.

Kemacetan panjang tak terhindarkan lantaran jalur alternatif lainnya menuju Bandung selatan, yakni melalui Jalan Mohammad Toha-Dayeuhkolot, terendam banjir hampir 1 meter. Genangan air diperparah dengan hujan yang terus turun sejak pukul 13.00 hingga pukul 17.00.

Warga Andir dan Baleendah yang rumahnya kebanjiran saat ini bingung mencari tempat mengungsi. Empat lokasi pengungsian yang disediakan pemerintah daerah tidak mampu menampung pengungsi yang diperkirakan akan terus bertambah.

Jumlah pengungsi pada banjir akhir tahun ini diperkirakan sama besarnya dengan saat banjir awal 2010, yang juga merendam lebih dari 6.000 rumah warga. Aparat Kantor Kecamatan Baleendah mencatat, banjir kali ini melanda 9.283 jiwa warga Baleendah dan 1.482 warga Andir.

”Kami bertahan di jalan karena belum ada tenda pengungsian yang dibangun pemerintah. Lokasi pengungsian juga penuh,” kata Novi (20), warga Andir.

Sembilan hari

Biasanya Andir tidak lama tergenang banjir karena kontur tanahnya yang lebih tinggi daripada kampung-kampung di Kelurahan Baleendah. Namun, banjir kali ini ternyata sudah sembilan hari merendam 3.817 rumah warga Andir sejak Kamis pekan lalu. Kondisi terparah dialami warga RW 9 yang berbatasan langsung dengan Sungai Citarum. Jalan kampung sepenuhnya tertutup air.

Kendati telah menjadi bencana tahunan, penanganan banjir terkesan kurang serius. Penanganan pengungsi pun seadanya. Dapur umum, misalnya, hingga sepekan sejak banjir melanda belum didirikan.

”Konsentrasi kami memang penyelamatan warga dan mencegah timbulnya korban jiwa,” kata Juhana, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung.

Terancam puso

Di Kabupaten Subang, Jawa Barat, ratusan hektar tanaman padi usia 1-30 hari terancam puso karena tergenang banjir selama beberapa hari. Petani khawatir kian terjerat utang karena panen musim lalu anjlok akibat serangan hama dan penyakit.

Data Dinas Sosial Subang, banjir melanda enam kecamatan di wilayah utara Karawang, yakni Pabuaran, Ciasem, Blanakan, Sukasari, Pamanukan, dan Pusakanagara. Sedikitnya 279 hektar sawah dan 3.000 rumah tergenang akibat luapan Sungai Ciasem, Cijengkol, Batang Leutik, Pangaritan, Cigadung, dan Cilamaya.

Banjir juga masih menggenangi beberapa wilayah di Pontianak, Kubu Raya, dan hulu Sungai Kapuas, Kalimantan Barat. Rendaman air dipicu hujan setiap hari dengan intensitas tinggi dan air pasang Sungai Kapuas.

Di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, sekitar 22 rumah dan 25 hektar sawah di Desa Cintamanik, Kecamatan Bumijawa, rusak akibat pergerakan tanah dan longsor. Longsor di desa itu pun mengakibatkan sejumlah jalan di areal persawahan hilang.

Sementara hujan lebat yang mengguyur Yogyakarta selama satu jam, Jumat siang, mengakibatkan tebing sungai di Kampung Pingit, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta, longsor. Satu rumah di atas tebing itu roboh ke sungai dan satu rumah lain retak.(rek/mkn/aha/eng/wie)



Post Date : 11 Desember 2010