Pemenuhan kebutuhan air minum masyarakat Sulawesi Tengah masih lambat
yakni rata-rata 1,2 persen per tahun dari target pembangunan millenium (MDGs)
2015 sebesar 68,87 persen dari jumlah rumah tangga, kata seorang pejabat
setempat.
Kepala Bidang Cipta Karya pada Dinas Cipta Karya, Perumahan
dan Tata Ruang Sulawesi Tengah, Aryan Gafur, di Palu, Kamis, mengatakan
keterlayanan masyarakat terhadap air minum pada 2012 baru mencapai 48,34 persen
dari jumlah rumah tangga.
"Artinya masih ada 52 persen lagi rumah tangga yang
belum terlayani air minum," katanya.
Dia mengatakan jika mengacu pada target MDGs 2015 yakni 68,87
persen maka selama tiga tahun pemerintah daerah harus menurunkan keterbatasan
akses air minum itu sekitar 18 persen.
Itu artinya, kata Aryan, setiap tahun daerah ini harus
menurunkan enam persen per tahun. Sementara kecederungan nasional dalam
setahun, Sulawesi Tengah hanya mampu menurunkan 1,2 persen.
"Tahun ini target kita 58,85 persen akses terhadap air
minum layak perkotaan dan perdesaan," katanya.
Aryan mengatakan dirinya khawatir target MDGs tersebut tidak
tercapai hingga akhir 2015 jika tidak ada loncatan program yang serius untuk
mendukung penurunan keterbatasan akses layanan air minum tersebut.
"Tapi itu kan target. Bisa tercapai, bisa juga tidak.
Tapi kita akan berjuang agar target itu bisa kita penuhi. Tapi ini tidak terlepas
dari dukungan anggaran," katanya.
Dia mengatakan untuk mempercepat realisasi proporsi rumah
tangga terhadap akses air minum layak konsumsi perkotaan dan perdesaan
pemerintah daerah juga mengajak peran swasta untuk ikut berpartisipasi.
"Makanya setiap pembangunan perumahan oleh pengembang
paling pertama kita tanya mampu tidak mereka melayani kebutuhan air
minum," katanya.
Aryan mengatakan pemerintah provinsi mendapat alokasi
anggaran sebanyak Rp80 miliar pada 2013 untuk difokuskan pada pelayanan akses
air minum.
Anggaran tersebut kata dia, akan dialokasikan untuk instalasi
sumber-sumber air baku.
Selain APBD Provinsi, percepatan pembangunan juga didukung
dengan dana APBN. Namun dukungan anggaran APBN tersebut belum diketahui
jumlahnya.
"Itu bukan kewenangan kami," katanya.
Aryan mengatakan fokus penanganan air minum diprioritaskan
pada daerah-daerah rawan krisis air minum seperti di Tojo Unauna dan Banggai
Kepulauan.
Di Kota Palu sendiri kata Aryan, masih ada tempat-tempat
tertentu yang sulit dijangkau air minum.
Post Date : 27 Mei 2013
|