"Sekolah Kami Belum Bersih, Banjir Datang Lagi..."

Sumber:Pikiran Rakyat - 09 Desember 2010
Kategori:Banjir di Luar Jakarta

Dalam genangan air sedalam setengah meter, puluhan meja dan kursi jungkir-balik di halaman kompleks sekolah itu, Rabu (8/12) siang. Beberapa monitor komputer dan satu mesin fotokopi yang masih menyisakan lumpur di beberapa sisinya, tergeletak di sudut-sudut terasnya. Di dalam ruangan kelas dan kantor guru, ada ribuan buku dan arsip yang basah, termasuk ratusan rapor siswa yang belum kering.

Malam sebelumnya, banjir kembali menggenangi Kompleks SMP 1, SMA 2, dan SMK Handayani, di Blok Nambo, Desa Batukarut, Kec. Arjasari, Kab. Bandung tersebut. Itu adalah banjir ketiga dalam seminggu terakhir. Yang pertama dan yang paling besar, terjadi Rabu (1/12) lalu. Sejak hari itulah, lebih dari tujuh ratus siswa di tiga sekolah itu, tak bisa lagi belajar di kelas. Kompleks sekolah ini pun lumpuh.

Lilis, Pembantu Kepala Sekolah Bidang Sarana SMK Handayani mengungkapkan, siswa datang ke sekolah hanya untuk bersih-bersih. "Setelah banjir pertama, kami langsung membersihkan sekolah dan menyelamatkan arsip. Namun, datang banjir kedua, Jumat (3/12) malam, semua terendam lagi. Setelah semua dibersihkan, datang lagi banjir semalam," ucapnya.

SMK Handayani menderita kerugian paling besar. Ratusan meja dan kursinya rusak diterjang air luapan Sungai Citalutug yang jaraknya tak sampai empat meter dari kompleks tersebut. Dua puluh komputer yang menjadi sarana praktik utama siswa Jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ) rusak. Ratusan rapor siswa juga ikut terendam air.

Arsip dan buku-buku milik SMA 2 Handayani juga tak luput dari terjangan air. Meskipun sebagian besar rapor terselamatkan karena ditaruh di rak tinggi, semua buku koleksi perpustakaan sekolah ini ludes diterjang banjir. Enam komputer milik SMA ini juga ikut terendam.

"Untungnya, buku induk sekolah juga bisa diselamatkan," tutur Encang, petugas Tata Usaha SMA 2.

SMP 1 Handayani menderita kerugian paling sedikit. Sepuluh komputer baru bagi laboratorium mereka terhindar dari banjir karena hanya beberapa hari sebelum kejadian, semuanya telah dipindahkan ke lantai dua kompleks tersebut. "Beberapa puluh rapor masih basah. Belum tahu, ketika dikeringkan nanti, tulisan di dalamnya masih jelas terbaca atau tidak," kata Iman Nurjaman, petugas Tata Usaha SMP tersebut.

Selama seminggu terakhir, siswa tak hanya bergotong royong membersihkan kelas, sebagian dari mereka juga begadang di sekolah setiap malam untuk berjaga-jaga. Intensitas hujan yang tak mengendur membuat seluruh penghuni sekolah itu waswas. "Sudah lima tahun terakhir sekolah kami bebas banjir. Sekarang (banjir) datang lagi dan jauh lebih besar," kata Lilis.

Tiadanya kegiatan belajar-mengajar selama seminggu terakhir menjadi kekhawatiran tersendiri bagi para siswa. Apalagi, Senin (13/12) nanti, ujian semester ganjil akan dimulai. "Semoga saja banjir tidak datang lagi. Kami sudah banyak ketinggalan pelajaran," ujar Suci (17), siswa kelas X Jurusan Administrasi Perkantoran SMK Handayani.

Lilis mengungkapkan, pengelola sekolah belum bisa memastikan di mana ujian nanti akan digelar. Jika banjir kembali datang, bukan tidak mungkin siswa akan melangsungkan ujian di kompleks SMP 2 dan SMA 1 Handayani di Bojongsereh, Arjasari. Kedua kompleks sekolah tersebut berada dalam naungan yayasan yang sama. Namun, jika kelas tidak tergenang, kata Lilis, ujian bisa saja dilakukan dengan cara lesehan.

Kepala Dinas Pendidikan Kab. Bandung Juhana mengaku, belum ada pendataan terperinci berapa sekolah yang menjadi korban banjir dan jumlah ataupun bentuk kerugian yang diderita. Timnya sedang melakukan tugas tersebut di lapangan.

Namun, ia menjanjikan, dalam jangka panjang, perbaikan sarana ketiga sekolah tersebut akan dilakukan, termasuk penggantian perangkat komputer yang rusak. Namun, ia meminta, untuk saat ini kegiatan belajar-mengajar tetap dilangsungkan tanpa harus menunggu kesiapan ruang kelas.

"Dalam keadaan darurat, kegiatan belajar-mengajar bisa dilakukan di mana saja. Bisa di sekolah lain atau dengan memberikan tugas kepada siswa di rumah. Jangan sampai hal ini terhenti," ujarnya. (Ag. Tri Joko Her Riadi/"PR")



Post Date : 09 Desember 2010